Lewati ke konten
Mutun.id
Ensiklopedi Hadits

Hadits 4247

Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam dan bangun di akhirnya, lalu melaksanakan salat

Klasifikasi

  • Fikih dan Uṣūl Fikih · Fikih Ibadah · Salat · Salat Sunah
  • Sejarah dan Tarikh · Sirah Nabawiyah · Sifat-sifat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- · Petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- · Petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- Terkait Salat

النص العربي

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يَنَام أول اللَّيل، ويقوم آخره فَيُصلِّي.

متفق عليه · صحيح

Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam dan bangun di akhirnya, lalu melaksanakan salat."

Muttafaq 'alaih · Hadis sahih

Penjelasan dari sumber

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menceritakan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa tidur di awal malam setelah salat Isya dan bangun di akhirnya, yaitu di sepertiga malam kedua. Lalu melaksanakan salat malam. Jika beliau selesai salat maka beliau kembali lagi ke kasurnya untuk tidur, yaitu di seperenam malam yang terakhir, agar beliau bisa istirahat dan menghilangkan kelelahan salat malam.

Maslahat lainnya adalah agar melaksanakan salat Subuh dan wirid siang dengan vitalitas dan semangat baru, karena itu bisa menghilangkan pamer. Sebab, orang yang tidur di seperenam malam, wajahnya tampak cerah dan tubuhnya kuat. Jadi ini lebih tepat untuk menyembunyikan amalan yang sudah dilakukannya dari orang yang melihatnya.

Oleh karena itu, dinyatakan bahwa azan pertama untuk membangunkan orang yang tidur dan menyuruh orang yang salat untuk kembali (tidur). Orang yang salat segera tidur agar tubuhnya kembali kuat dan bersemangat. Adapun orang yang tidur, agar bangun untuk persiapan salat malam sekaligus salat witir jika ia belum salat witir di awal malam.

الشرح

تُخبر عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينام أول الليل، وذلك بعد صلاة العشاء، ويقوم آخره، وهو: الثلث الثاني من الليل، فإذا فَرَغ من صلاته، رجع إلى فراشه ليَنَام، وذلك في السُدس الأخير من الليل؛ ليستريح بَدَنه من عَنَاء قيام الليل، وفيه من المصلحة أيضاً استقبال صلاة الصبح، وأذكار النهار بنشاط وإقبال، ولأنه أقرب إلى عدم الرياء؛ لأن من نام السدس الأخير أصبح ظاهر اللون سليم القوى، فهو أقرب إلى أن يخفي عمله الماضي عمن يراه. ولهذا جاء أن الأذان الأول؛ ليوقظ النائم ويرجع القائم، فالقائم يرجع إلى النوم؛ ليَكتَسِب بدنه قوة ونشاطاً، وأما النائم، فيستيقظ حتى يَستعد للصلاة، وحتى يصلي وتره إذا لم يوتر أول الليل.

الفوائد

  1. كراهية قيام الليل كله، وأن الأفضل أن ينام جزءاً من الليل، ويقوم جزءا منه؛ دفعًا للملل والكسل.
  2. الأفضل أن يكون القيام في الجزء الأخير من الليل؛ ليكون أنشط في العبادة.
  3. آخر الليل أرْجَى في إجابة الدعاء.
  4. بيان الوقت الذي كان يقوم فيه -صلى الله عليه وسلم- من الليل.

Sumber: HadeethEnc.com. Konten ditampilkan tanpa modifikasi sesuai ketentuan sumber.

Untuk pemahaman rinci dan pengambilan hukum, rujuklah kepada guru atau syarah yang terpercaya.