Lewati ke konten
Mutun.id
Ensiklopedi Hadits

Hadits 4525

Siapa yang ‎lupa, padahal dia sedang berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah dia meneruskan puasanya, karena Allahlah yang telah memberinya makan dan minum

Klasifikasi

  • Fikih dan Uṣūl Fikih · Fikih Ibadah · Puasa · Pembatal Puasa

النص العربي

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ».

متفق عليه · صحيح

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,

"Siapa yang ‎lupa, padahal dia sedang berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah dia meneruskan puasanya, karena Allahlah yang telah memberinya makan dan minum."

Muttafaq 'alaih · Sahih

Penjelasan dari sumber

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang makan atau minum karena lupa saat berpuasa wajib ataupun sunah agar ia melanjutkan puasanya dan tidak membatalkannya karena ia tidak pernah berniat membatalkannya, tetapi itu adalah rezeki yang Allah berikan kepadanya dengan memberinya makan dan minum.

الشرح

بَيَّنَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم أنَّ مَن أَكَلَ أو شرب ناسيًا وهو في صوم فريضة أو تطوّع فلْيُتمّ صومَه ولا يُفطر؛ لأنه لم يَتَقَصَّد الفطر، وإنما هو رِزْقٌ ساقَه الله إليه وأطعمه وسَقَاه.

Pelajaran dari sumber

  1. 1- Sahnya puasa orang yang makan atau minum karena lupa.
  2. 2- Orang yang makan atau minum karena lupa saat berpuasa tidak berdosa karena hal itu tidak dilakukan atas dasar pilihannya.
  3. 3- Sifat lembut Allah kepada hamba-Nya, memberi kemudahan kepada mereka, dan menghilangkan kesulitan dan kesusahan dari mereka.
  4. 4- Puasa orang yang berpuasa tidak batal dengan salah satu pembatal puasa kecuali jika terpenuhi tiga syarat: Pertama: Tahu. Jika dia tidak tahu maka puasanya tidak batal. Kedua: Ingat. Jika lupa maka puasanya tetap sah dan ia tidak wajib mengkada. Ketiga: Kemauan sendiri dan tidak dipaksa, yaitu ia melakukan pembatal itu dengan pilihannya sendiri.

الفوائد

  1. صحة صوم من أكل أو شرب ناسيًا.
  2. ليس على من أكل أو شرب ناسيًا إثم؛ لأنه ليس باختياره.
  3. لُطْفُ الله بعباده والتيسير عليهم ورَفْع المشقّة والحَرَج عنهم.
  4. لا يُفطِر الصائم بشيء من المفطِّرات إلا إذا توافرت ثلاثة شروط: الأول: أن يكون عالمًا، فإن كان جاهلًا لم يفطر، الثاني: أن يكون ذاكرًا، فإن كان ناسيًا، فصيامه صحيح ولا قضاء عليه، الثالث: أن يكون مختارًا لا مُكرَهًا بأن يتناول المفطِّر باختياره.

Sumber: HadeethEnc.com. Konten ditampilkan tanpa modifikasi sesuai ketentuan sumber.

Untuk pemahaman rinci dan pengambilan hukum, rujuklah kepada guru atau syarah yang terpercaya.