Lewati ke konten
Mutun.id
Ensiklopedi Hadits

Hadits 5961

Apabila kalian bepergian ke tempat yang subur, berikanlah unta itu bagiannya dari bumi. Apabila kalian bepergian ke tempat yang gersang, maka percepatlah perjalanannya, dan segerakanlah (sebelum habis) sumsumnya.

Klasifikasi

  • Keutamaan dan Adab · Adab-adab Syar'i · Adab dan Hukum Safar

النص العربي

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «إذا سافرتم في الخِصْب، فأَعْطُوا الإبل حظَّها من الأرض، وإذا سافرتم في الجَدْب، فأَسْرِعوا عليها السَّيْر، وبادروا بها نِقْيَها، وإذا عَرَّسْتُم، فاجتنبوا الطريق؛ فإنها طُرُق الدَّوَابِّ، ومَأْوَى الهَوَامِّ بالليل»

رواه مسلم · صحيح

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Apabila kalian bepergian ke tempat yang subur, berikanlah unta itu bagiannya dari bumi. Apabila kalian bepergian ke tempat yang gersang, maka percepatlah perjalanannya, dan segerakanlah (sebelum habis) sumsumnya. Apabila kalian bermalam maka jauhilah jalanan, karena itu adalah lalu lintas binatang-binatang tunggangan yang lain dan binatang-binatang melata di waktu malam.

Diriwayatkan oleh Muslim · Hadis sahih

Penjelasan dari sumber

Hadis ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan manusia dan binatang-binatang di mana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengarahkan para musafir kepada berbagai adab berikut ini: Beliau memerintahkan kepada orang musafir apabila mengadakan perjalanan dengan mengendarai binatang tunggangan berupa unta atau keledai atau bighal atau kuda, hendaknya ia memperhatikan kemaslahatan binatang itu dalam penggembalaan dan perjalanan. Sebab, ia bertanggung jawab terhadap binatang-binatang itu. Jika ia mengadakan perjalanan di musim yang banyak tanaman dan makanan ternak, maka ia harus perlahan-lahan dan tidak berjalan dengan cepat hingga ia bisa memberi binatang-binatang itu haknya dalam penggembalaan (makanan).

Jika ia melakukan perjalanan di hari-hari yang sedikit tanaman dan makanan ternak, hendaknya ia berjalan cepat hingga tidak membuat binatang kepayahan dan kelelahan. Demikian juga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh orang musafir apabila singgah di malam hari untuk istirahat dan tidur, hendaknya ia tidak melakukannya di pinggir jalan karena itu adalah lalu lintasnya binatang-binatang para musafir yang datang dan pergi. Karena itu ia tidak boleh merintangi binatang-binatang itu dari jalurnya karena ini berbahaya.

Demikian juga jalan-jalan itu merupakan tempat serangga-serangga dan binatang-binatang melata di bumi termasuk binatang beracun dan binatang buas yang melintas di malam hari di jalan-jalan tersebut karena mudah dan memungut makanan dan sejenisnya yang jatuh ke jalan.

الشرح

في الحديث مراعاة مصالح الإنسان والبهائم، حيث أرشد صلى الله عليه وسلم المسافرين إلى هذه الآداب: فأمر المسافر إذا سافر على راحلة بهيمة: من الإبل، أو الحمر أو البغال، أو الخيل؛ فإن عليه أن يراعي مصلحتها في الرعي والسير؛ لأنه مسؤول عنها: فإذا سافر في أيام كثرة الزرع والعلف؛ فإن عليه أن يتأنى ولا يسرع في السير حتى يعطي الدوابَّ حقها من الرعي، وأنه إذا سافر في أيام قلة الزرع والعلف؛ فإن عليه أن يُسرع في حدود طاقة الدابة؛ حتى لا يُجْهِد الدابَّة ويُتْعِبها. وكذلك أمر صلى الله عليه وسلم المسافر: إذا نزل في الليل ليستريح وينام؛ فإنه لا يفعل ذلك في الطريق، لأنها طرق دوابِّ المسافرين، يترددون عليها، فلا يمنعها عن طُرُقها ويُسَبِّب لها الضرر، وكذلك لأنها مأوى الحشرات ودواب الأرض من ذوات السموم والسباع، تمشي في الليل على الطرق؛ لسهولتها، ولأنها تلتقط منها ما يسقط من مأكول ونحوه.

الفوائد

  1. إعطاء الدواب حقها في الأكل والمرعى، وعدم منعها منه.
  2. اجتناب الأماكن التي يتوقع الإنسان فيها الأذى، وعدم النوم فيها.
  3. حض الإسلام على الرفق بالحيوان، ومراعاة مصالحه في السير.
  4. حرص النبي -صلى الله عليه وسلم- على مصالح المسلمين، وإرشادهم إليها.

Sumber: HadeethEnc.com. Konten ditampilkan tanpa modifikasi sesuai ketentuan sumber.

Untuk pemahaman rinci dan pengambilan hukum, rujuklah kepada guru atau syarah yang terpercaya.