Istikharah
الاستخارة · Entri 21 dari 141
Teks Arab
الاستخارة
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ﵄ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَلِّمُنَا الاسْتِخَارَةَ (^١) فِي الأُمُورِ، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ، يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ.
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: - عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاقْدُرْهُ لِي، وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ.
وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: - فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاصْرِفْهُ عَنِّي، وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ.
قَالَ: وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ (^١)» (^٢).
Terjemah Indonesia
Terjemah dari sumberDari Jabir bin Abdullah , ia berkata, “Nabi ﷺ mengajarkan kami untuk beristikharah dalam semua urusan sebagaimana beliau mengajarkan kami sebuah surah dari Al-Qur'an.
Beliau berkata, ‘Jika seseorang di antara kalian hendak melakukan sesuatu, hendaklah ia salat dua rakaat di luar salat fardu, kemudian berdoa, ‘Allāhumma innī astakhīruka bi 'ilmik, wa astaqdiruka bi qudratik, wa as-aluka min fadhlikal-'azhīm, fa innaka taqdiru wa lā aqdir, wa ta'lamu wa lā a'lam, wa anta 'allāmul-ghuyūb. Allāhumma in kunta ta'lamu anna hādzal-amra khairun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī –atau dengan lafadz: 'ājili amrī wa ājilihi–, faqdur-hu lī, wa yassir-hu lī,
tsumma bārik lī fīh. Wa in kunta ta'lamu anna hādzal-amra syarrun lī fī dīnī
wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī –atau dengan lafadz: fī 'ājili amrī wa ājilihi– fashrif-hu 'annī, washrifnī 'anhu, waqdur liyalkhaira ḥaitsu kāna, tsumma ardhinī bih’ ‘Ya Allah, aku meminta yang terbaik kepadamu melalui Ilmu-Mu, aku meminta kemampuan kepada-Mu melalui KuasaMu, dan aku meminta sebagian dari karunia-Mu yang begitu besar. Karena sungguh Engkau Mahakuasa, sedang aku tak kuasa, Engkau Mahatahu sedang aku tak tahu, dan Engkau Maha mengetahui semua perkara yang gaib.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, untuk agamaku, kehidupanku, dan juga masa depanku atau: untukku kini dan nanti-, maka tetapkanlah perkara ini untukku, mudahkan bagiku, lalu berikanlah aku keberkahan padanya. Akan tetapi, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku, untuk agamaku, kehidupanku, dan juga masa depanku -atau: untukku kini dan nanti-, maka jauhkanlah perkara ini dariku dan palingkan aku darinya.
Lalu, tetapkanlah yang terbaik untukku, apa pun itu, dan buatlah aku rida dengannya.’ Beliau bersabda, ‘Ia sebutkan hajatnya.’”1 (HR. Bukhari). Ia sebutkan hajatnya di dalam doa, dengan mengganti kata ‘perkara ini’ dengan hajatnya tersebut. 1
SAKIT
Terjemah ini membantu memahami makna awal. Untuk pemahaman rinci dan pengambilan hukum, rujuk kepada guru atau syarah yang terpercaya.
Catatan sumber Arab
- ١
أَيْ: طَلَبَ خَيْرِ الأَمْرَيْنِ.
- ١
أَيْ: وَيُسَمِّي فِي الدُّعَاءِ الأَمْرَ الَّذِي يَسْتَخِيرُ مِنْ أَجْلِهِ.
- ٢
رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Tentang entri ini
- Urutan
- Hadits 20 dari 141 di kitab ini
- Sumber teks
- Turath book 568, page_id 45,46,47, printed page 52,53,54