Lewati ke konten
Mutun.id

الأذكار والآداب

Zikir dan Adab

Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim

Kumpulan hadis tentang keutamaan ilmu, zikir, dan adab. Kitab ini menjadi tingkat tamhidi dalam serial Mutun Thalibul Ilmi.

Pengantar

Muqaddimah

المقدمة

Pengantar

Muqaddimah

1 dari 141

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أما بعد: فَذِكْرُ اللَّهِ مِنْ أَجَلِّ العِبَادَاتِ وَأَيْسَرِهَا، وَحَاجَةُ العَبْدِ إِلَيْهِ أَشَدُّ مِنْ حَاجَتِهِ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَهُوَ يُرْضِي الرَّحْمَنَ، وَيَطْرُدُ الشَّيْطَانَ، وَيُزِيْلُ الهَمَّ وَالغَمَّ، وَيَجْلِبُ السَّعَادَةَ وَالسُّرُورَ، وَمَنْ ذَكَرَ اللَّهَ ذَكَرَهُ سُبْحَانَهُ وَأَحَبَّهُ وَقَرَّبَهُ إِلَيْهِ.

وَالتَّحَلِّي بِآدَابِ الإِسْلَامِ زِينَةٌ لِصَاحِبِهِ، وَفِيهِ امْتِثَالٌ لِلنُّصُوصِ، وَبِهِ يَنْبُلُ المَرْءُ، وَيَكُونُ قُدْوَةً لِلآْخَرِينَ، قَالَ ابْنُ سِيرِينَ ﵀: «كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ العِلْمَ».

وَلِأَهَمِّيَّةِ الأَذْكَارِ وَالآدَابِ جَمَعْتُ فِيهِمَا أَحَادِيثَ، تَوَخَّيْتُ فِيهَا الصِّحَّةَ، وَاجْتَهَدْتُ فِي تَبْوِيبِهَا، وَتَرْتِيبِهَا، وَبَيَّنْتُ غَرِيبَهَا، وَقَسَمْتُهُ إِلَى قِسْمَيْنِ: قِسْمٍ لِلْأَذْكَارِ وَقِسْمٍ لِلْآدَابِ، وَصَدَّرْتُهُ بِفَضَائِلَ، وَسَمَّيْتُهُ: «الأَذْكَارُ وَالآدَابُ».

وَطَالِبُ العِلْمِ قُدْوَةٌ لِغَيْرِهِ، وَهُوَ أَوْلَى النَّاسِ بِالتَّحَلِّي بِالآدَابِ فِي حَيَاتِهِ وَمُعَامَلَاتِهِ، وَأَحْرَى بِأَنْ يُدِيمَ ذِكْرَ اللَّهِ فِي كُلِّ أَحْوَالِهِ؛

لِذَا جَعَلْتُ هَذَا المَتْنَ مُسْتَوىً تَمْهِيدِيًّا بَيْنَ يَدَيِ المُسْتَوَيَاتِ السِّتَّةِ مِنْ «مُتُونُ طَالِبِ العِلْمِ»؛ لِيَكُونَ عَوْنًا لِلطَّالِبِ عَلَى مُبْتَغَاهُ.

أَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَ بِهِ، وَيَجْعَلَهُ ذُخْرًا لَنَا يَوْمَ القِيَامَةِ.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Terjemah Indonesia

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabat beliau. Amma ba'du: Zikir merupakan ibadah yang agung dan mudah untuk diamalkan. Kebutuhan seorang hamba terhadap zikir jauh lebih besar daripada kebutuhannya terhadap makanan dan minuman.

Zikir akan mendatangkan keridaan Ar-Rahman dan menjauhkan diri dari godaan setan. Selain itu, zikir juga dapat menghilangkan kerisauan dan kesusahan, serta membawa kebahagiaan dan ketenangan. Barang siapa yang senantiasa mengingat Allah dengan berzikir, maka Allah akan mengingatnya, mencintainya, dan mendekatkannya kepada-Nya. Selain zikir yang menjadi penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya, seorang muslim juga harus memperhatikan hubungan dengan sesamanya, melalui penerapan nilai-nilai, adab dan budi pekerti yang baik.

Adab-adab yang diajarkan Islam adalah perhiasan yang menghiasi siapa saja yang mengamalkannya. Dengan menerapkan adab yang baik, seseorang telah menjalankan ajaran Islam, dan akan menjadikannya sosok yang dihormati dan disegani. Ibnu Sirin ﷺ (w. 110 H) berkata, “Para ulama terdahulu mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” Seorang penuntut ilmu sejatinya adalah teladan bagi orang lain, maka seyogianya ia menjadi yang terdepan dalam menampilkan adab dan budi pekerti yang baik dalam kehidupan

dan pergaulannya, serta senantiasa berzikir mengingat Allah dalam setiap keadaannya. Karena melihat pentingnya zikir dan adab inilah, saya mengumpulkan sejumlah hadis yang berkaitan dengan keduanya, dengan berusaha hanya memilih hadis-hadis yang sahih saja, kemudian menyusunnya sesuai dengan judul dan bab yang terstruktur, serta memberikan penjelasan untuk kata-kata yang mungkin kurang dipahami. Buku ini terdiri dari dua bagian utama: bagian pertama mengulas bacaan-bacaan zikir, sedangkan bagian kedua membahas adab-adab.

Buku ini juga diawali dengan pendahuluan singkat mengenai keutamaan beberapa amalan. Buku ini saya beri judul Al-Adzkār wal Ādāb (Zikir-Zikir dan Adab-Adab), dan saya jadikan sebagai tingkatan pertama dalam serial Mutūn Thālibil 'Ilmi (Kumpulan Matan1 untuk Penuntut Ilmu). Saya memohon kepada Allah agar menjadikan buku ini bermanfaat dan menjadi tabungan kebaikan di akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabat beliau.

Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim Imam dan Khatib Masjid Nabawi Syarif

Catatan kaki 1: Buku ringkas yang berisi intisari cabang ilmu tertentu.

KEUTAMAAN

Terjemah dari sumber

Pasal

Keutamaan

الفضائل

Bab

فضل طلب العلم

1

Keutamaan Menuntut Ilmu

2 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا؛ سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا؛ يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan berikan pemahaman mendalam tentang agama kepadanya.” (Muttafaq alaih).2

3. Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah darinya seluruh amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Catatan kaki 2: Hadis muttafaq alaih adalah hadis yang disepakati kesahihannya oleh dua imam besar ilmu hadis, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim, di dalam kedua kitab Sahih mereka: Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Terjemah dari sumber

Bab

فضل تعلم القرآن

2

Keutamaan Mempelajari Al-Qur'an

3 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ (^٢)، وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ (^٣) وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ؛ فَلَهُ أَجْرَانِ» (^٤).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اقْرَؤُوا القُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur'an dengan lancar akan berada bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membacanya dengan terbata-bata, tetapi ia terus berusaha memperbaiki bacaannya, meskipun itu berat baginya, maka ia akan memperoleh dua pahala.” (HR. Bukhari).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Bab

فضل الذكر

3

Keutamaan Zikir

4 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «سَبَقَ المُفَرِّدُونَ، قَالُوا: وَمَا المُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Perumpamaan antara orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir adalah seperti perbandingan antara orang hidup dan orang mati.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Allah Taala berfirman, ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia berzikir menyebut-Ku. Jika dia menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku akan menyebutnya dalam Diri-Ku; dan jika dia menyebut-Ku di tengah sekelompok orang, Aku akan menyebutnya di tengah sekelompok makhluk yang lebih mulia daripada mereka.’” (Muttafaq alaih).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Orang-orang yang menyendiri telah meraih kemenangan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah orangorang yang menyendiri itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

“Mereka yang senantiasa banyak mengingat Allah, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Bab

فضل مجالس الذكر

4

Keutamaan Majelis-Majelis Zikir (Ilmu)

5 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ؛ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ (^١)، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ المَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan ketenangan akan turun atas mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan memuji mereka di hadapan makhluk-makhluk yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim).

BAGIAN PERTAMA: ZIKIR

BERSUCI

Terjemah dari sumber

Pasal

Bagian Zikir

قسم الأذكار

Bab

Bersuci

الطهارة

Fashl

دخول الخلاء

5

Masuk Toilet

6 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الخَلَاءَ (^١) قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ (^٢)» (^٣) ٣).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ hendak masuk toilet, beliau mengucapkan, “Allāhumma innī a'ūdzu bika minal-khubutsi wal-khabāits” “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setansetan, baik yang laki-laki maupun perempuan.” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Doa ini dibaca ketika hendak mendatangi tempat buang air, baik tempat tertutup maupun tempat terbuka, seperti padang pasir, hutan, dll.

Terjemah dari sumber

Fashl

الخروج من الخلاء

6

Keluar Toilet

7 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا خَرَجَ مِنَ الغَائِطِ قَالَ قَالَ: «غُفْرَانَكَ (^١)» (^٢) ٢).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ keluar dari toilet, beliau mengucapkan, “Ghufrānaka” “(Ya Allah, aku memohon) ampunan-Mu.” (HR. Ahmad).

Terjemah dari sumber

Fashl

إذا فرغ من الوضوء

7

Selepas Berwudu

8 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ، فَيُبْلِغُ - أَوْ فَيُسْبِغُ الوُضُوءَ -، ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ ألَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ؛ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah seseorang di antara kalian berwudu dengan betul-betul menyempurnakan wudunya, lalu ia mengucapkan, ‘Asyhadu allā ilāha illallāh, wa anna Muḥammadan 'abdullāhi wa rasūluh’ ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya,’ melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Muslim).

SALAT

Terjemah dari sumber

Bab

Salat

الصلاة

Fashl

الأذان

8

Azan

9 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ؛ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ المُؤَذِّنَ (^٢): أَشْهَدُ ألَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا؛ غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ» (^٣).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ (^١)، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ» (^٢).

٤ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ (^٣)، وَالصَّلَاةِ القَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ (^٤)، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا (^٥) الَّذِي وَعَدْتَهُ؛ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ» (^١) (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Jika kalian mendengar suara muazin, ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, lalu berselawatlah untukku.” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang ketika mendengar suara muazin, mengucapkan,1 ‘Asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa anna Muḥammadan 'abduhu wa rasūluh, radhītu billāhi rabban, wa bimuḥammadin rasūlan, wa bil-islāmi dīnan’ ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rida Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai rasulku, dan Islam sebagai agamaku,’ maka akan diampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Setelah muazin mengumandangkan dua kalimat syahadat.

3. Nabi ﷺ bersabda, “Lalu, apabila muazin berseru, ‘Hayya 'alas shalāh (mari menunaikan salat),’ ia menjawab, ‘Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’ ‘Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’ “Kemudian, apabila muazin berseru, ‘Hayya 'alal falāh (mari menuju kejayaan),’ ia menjawab, ‘Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’ ‘Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’” (HR. Muslim).

4. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang setelah mendengar seruan azan, membaca, ‘Allāhumma rabba hādzihid-da'watit-tāmmah, washshalātilqāimah, āti Muḥammadanil-wasīlata wal-fadhīlah, wab'ats-hu maqāman maḥmūdanil-ladzī wa'adtah’ ‘Ya Allah, Sang Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik salat yang didirikan, anugerahkanlah kepada Muhammad wasilah1 dan keutamaan2, serta bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji3 yang telah Engkau janjikan untuknya,’ niscaya ia

Catatan kaki 1: Wasilah adalah Kedudukan tertinggi di surga yang hanya akan diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Catatan kaki 2: Derajat yang melampaui semua makhluk.

Catatan kaki 3: Yaitu sebagai pemberi syafaat agung, di mana beliau memohon kepada Allah agar perhitungan amal segera dimulai, sehingga semua orang dapat terbebas dari penantian yang melelahkan di padang mahsyar.

berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.”

(HR. Bukhari).1 1 Bacaan-bacaan zikir yang disyariatkan ketika mendengar azan adalah sebagai berikut: 1- Mengikuti setiap kalimat yang dikumandangkan oleh muazin, kecuali pada dua kalimat hai'alah (‘Ḥayya 'alash-shalāh’ dan ‘Ḥayya 'alal falāh’), di mana kita mengucapkan, “Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.” 2- Selepas muazin mengumandangkan dua kalimat syahadat, kita membaca, “Asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa anna muḥammadan 'abduhū wa rasūluh, radhītu billāhi rabban, wa bimuḥammadin rasūlan, wa bil-islāmi dīnan.”

3- Apabila muazin selesai mengumandangkan azan, kita berselawat, “Allāhumma shalli wa sallim 'alā nabiyyinā Muḥammad” (Ya Allah, curahkanlah selawat dan salam-Mu atas Nabi kami Muhammad). 4- Selepas berselawat, kita berdoa, “Allāhumma rabba hādzihidda'watit-tāmmah, washshalātil-qāimah, āti Muḥammadanilwasīlata wal-fadhīlah, wab'ats-hu maqāman maḥmūdanil-ladzī wa'adtah.”

Terjemah dari sumber

Fashl

دخول المسجد والخروج منه

9

Masuk dan Keluar Masjid

10 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian akan memasuki masjid, hendaklah ia mengucapkan, ‘Allāhummaftaḥ lī abwāba raḥmatik’ ‘Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.’ “Lalu, apabila ia akan keluar, hendaklah ia mengucapkan, ‘Allāhumma innī as-aluka min fadhlik’ ‘Ya Allah, aku memohon karunia-Mu.’” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

دعاء الاستفتاح

10

Doa Iftitah

11 dari 141

١ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ، قَالَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ (^١)، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ (^٢)، وَتَعَالَى جَدُّكَ (^٣)، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ» (^٤).

٢ - قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ﵁: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ، سَكَتَ هُنَيَّةً (^٥) قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي! أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالقِرَاءَةِ، مَا تَقُولُ؟ قَالَ: أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ.

اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ.

اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالمَاءِ وَالبَرَدِ» (^١).

٣ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ كَبَّرَ، ثُمَّ قَالَ: وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ المُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ، وَأَنَا مِنَ المُسْلِمِينَ.

اللهُمَّ أَنْتَ المَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ.

لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ» (^١).

٤ - كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ: «اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ» (^١).

٥ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ، قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ، وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَقَوْلُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ ﷺ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ.

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Umar bin Khattab , apabila memulai salat, beliau membaca, “Subḥānakallāhumma wa bi ḥamdika, wa tabārakasmuka, wa ta'ālā jadduka, wa lā ilāha ghairuka” “Mahasuci Engkau, Ya Allah, dan segala puji bagi-Mu;1 Mahaberkah nama-Mu;2 Mahatinggi keagungan-Mu;3 dan tiada Tuhan yang hak selain Engkau.” (HR. Muslim dan Ad-Daraquthni).

Catatan kaki 1: Aku berkeyakinan bahwa Engkau Mahasuci dari segala cela, dan segala bentuk kesempurnaan hanyalah milik-Mu.

Catatan kaki 2: Artinya, keberkahan bisa didapatkan dengan banyak berzikir menyebut nama-Mu; dan arti keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan terus bertambah.

Catatan kaki 3: Mahatinggi kedudukan-Mu dan Mahaagung segala urusan-Mu.

2. Abu Hurairah berkata, “Apabila Nabi ﷺ bertakbir memulai salat, beliau diam sejenak sebelum membaca (Surah Al-Fatihah), maka aku pun bertanya, ‘Ya Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu! Dalam diammu antara takbir dan bacaan (Al-Fatihah), apa yang engkau ucapkan?’” Beliau menjawab, “Aku mengucapkan, ‘Allāhumma bā'id bainī wa baina khathāyāya kamā bā'ad-ta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allāhumma naqqinī min khathāyāya kamā yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas.

Allāhummaghsilnī min khathāyāya bits-tsalji wal-mā-i wal-barad’ ‘Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan es.’” (Muttafaq alaih).

3. Apabila Nabi ﷺ berdiri untuk salat, beliau membaca, “Wajjahtu wajhiya lilladzī fatharas-samāwāti wal-ardha ḥanīfan, wa mā anā minal-musyrikīn. Inna shalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-'ālamīn, lā syarīka lahū, wa bi dzālika umirtu, wa anā minal-muslimīn. Allāhumma antal-maliku, lā ilāha illā anta, anta rabbī, wa anā 'abduka, zhalamtu nafsī, wa'taraftu bi dzanbī, faghfir lī dzunūbī jamī'an, innahū lā yaghfirudz-dzunūba illā anta.

Wahdinī li aḥsanil-akhlāqi, lā yahdī li aḥsanihā illā anta, washrif 'annī sayyi-ahā lā yashrifu 'annī sayyi-ahā illā anta. Labbaika wa sa'daika, wal-khairu kulluhū fī yadaika, wasysyarru laisa ilaika, anā bika wa ilaika, tabārakta wa ta'ālaita, astaghfiruka wa atūbu ilaika” “Aku hadapkan wajahku1 kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh keikhlasan, dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku, adalah untuk Allah semata, Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Demikianlah yang telah diperintahkan kepadaku, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). Ya Allah, Engkaulah Sang Penguasa, tidak ada tuhan yang hak selain Engkau, Engkaulah Tuhanku, dan aku hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku, karena sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa selain Engkau.

Tuntunlah aku kepada akhlak yang paling mulia, karena tidak ada yang dapat menuntunku kepadanya selain Engkau; dan jauhkanlah dariku akhlak yang tercela, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku selain Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu dengan senang hati. Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu, dan keburukan tidak akan sampai

Catatan kaki 1: Aku ikhlaskan ibadahku.

kepada-Mu. Kepada-Mu aku memohon pertolongan, dan kepadaMu aku kembali. Engkau Mahaberkah lagi Mahatinggi. Aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

(HR. Muslim).

4. Apabila Rasulullah ﷺ bangun salat di malam hari, beliau memulai salatnya dengan membaca, “Allāhumma Rabba jabrāīla wa mīkāīla wa isrāfīl, fāthirassamāwāti wal-ardhi, 'ālimal-ghaibi wasy-syahādah, anta taḥkumu baina 'ibādika fīmā kānū fīhi yakhtalifūn, ihdinī limakhtulifa fīhi minal-ḥaqqi bi idznik, innaka tahdī man tasyā-u ilā shirāthin mustaqīm” “Ya Allah, Tuhan Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil, Sang Pencipta seluruh langit dan bumi, yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata,

Engkaulah yang memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu dalam segala hal yang mereka perselisihkan. Tuntunlah aku, dengan izin-Mu, kepada kebenaran dari apa yang diperselisihkan. Sesungguhnya Engkaulah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الوسوسة في الصلاة والقراءة

11

Godaan dalam Salat dan Bacaan

12 dari 141

أَتَى عُثْمَانُ بْنُ أَبِي العَاصِ ﵁ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ: خِنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ؛ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ - ثَلَاثًا -.

قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ؛ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي» (^١).

Terjemah Indonesia

Utsman bin Abi Al-'Ash datang kepada Nabi ﷺ, ia mengeluh, “Ya Rasulullah, setan telah menghalangiku dari salatku dan bacaanku1, ia benar-benar mengacaukannya.” Nabi ﷺ menjawab, “Itu adalah setan yang bernama Khinzab. Jika engkau merasakan kehadirannya, mohonlah perlindungan kepada Allah darinya, lalu meludahlah2 ke arah kirimu sebanyak tiga kali.” Ia berkata, “Aku pun melakukan hal tersebut, dan Allah menghilangkan gangguan itu dariku.”

(HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Ia menghalangiku dari kesempurnaan salatku dan kekhusyuan dalam bacaanku.

Catatan kaki 2: Meniup agak keras dibarengi dengan sedikit air ludah.

Terjemah dari sumber

Fashl

الركوع

12

Rukuk

13 dari 141

١ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ» (^١).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا رَكَعَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِي، وَبَصَرِي، وَمُخِّي، وَعَظْمِي، وَعَصَبِي» (^٢).

٣ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي» (^١).

٤ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: «سُبُّوحٌ، قُدُّوسٌ (^٢)، رَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ (^٣)» (^٤).

٥ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: «سُبْحَانَ ذِي الجَبَرُوتِ وَالمَلَكُوتِ وَالكِبْرِيَاءِ وَالعَظَمَةِ» (^٥).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ membaca dalam rukuknya, “Subḥāna rabbiyal 'azhīm” “Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung.” (HR. Muslim).

2. Apabila Nabi ﷺ rukuk, beliau membaca, “Allāhumma laka raka'tu, wa bika āmantu, wa laka aslamtu. Khasya'a laka sam'ī wa basharī, wa mukhkhī wa 'azhmī, wa 'ashabī” “Ya Allah, kepada-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, sumsumku, tulang-tulangku, dan urat-uratku tunduk hanya kepada-Mu.”

(HR. Muslim).

3. Nabi ﷺ sering membaca dalam rukuk dan sujudnya, “Subḥānakallāhumma rabbanā wa bi ḥamdika, Allāhummaghfir lī” “Mahasuci Engkau, Ya Allah, Tuhan kami, dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.” (Muttafaq alaih).

4. Nabi ﷺ membaca dalam rukuk dan sujudnya, “Subbūḥun Quddūs, Rabbul-malāikati war-rūḥ” “(Engkau) Mahasuci dan Mahakudus1, Tuhan para malaikat beserta Sang Ruh (Jibril ).” (HR. Muslim).

5. Nabi ﷺ membaca dalam rukuk dan sujudnya, “Subḥāna dzil-jabarūti, wal-malakūti, wal-kibriyā-i, wal'azhamah” “Mahasuci Pemilik segenap keperkasaan, kebesaran dan keagungan.” (HR. Abu Dawud).

Catatan kaki 1: kerajaan, Engkau Mahasuci dari segala cela dan segala sesuatu yang tidak pantas bagi-Mu.

Terjemah dari sumber

Fashl

الرفع من الركوع

13

Bangkit dari Rukuk

14 dari 141

١ - رَفَعَ النَّبِيُّ ﷺ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ وَقَالَ: «سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيرًا، طَيِّبًا، مُبَارَكًا فِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: مَنِ المُتَكَلِّمُ؟ قَالَ: أَنَا، قَالَ: رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا (^١) أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ» (^٢).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَالَ: «رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ، مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ (^١) وَالمَجْدِ (^٢)، أَحَقُّ مَا قَالَ العَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ.

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ (^٣)» (^٤).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ mengangkat kepala dari rukuk seraya membaca, “Sami'allāhu liman ḥamidah” “Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya.” Lalu, seseorang di belakang beliau menimpali, “Rabbana wa lakal-ḥamdu, ḥamdan katsīran, thayyiban, mubārakan fīh” “Wahai Tuhan kami, segala puji hanyalah milik-Mu, pujian yang banyak lagi baik, serta penuh berkah.” Selepas salat, beliau bertanya, “Siapa yang berbicara?”

Sahabat tersebut menjawab, “Aku.” Beliau berkata, “Aku melihat tiga puluh lebih malaikat berlomba-lomba untuk mencatatnya terlebih dahulu.” (HR. Bukhari).

2. Apabila Nabi ﷺ mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau membaca, “Rabbana lakal-ḥamdu, mil-as-samāwāti wal-ardhi, wa mil-a mā syi'ta min syaiin ba'du, ahlats-tsanā-i wal-majdi, aḥaqqu mā qālal-'abdu, wa kullunā laka 'abdun. Allāhumma lā māni'a limā a'thaita, wa lā mu'thiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u dzāljaddi minkal-jaddu.” “Wahai Tuhan kami, segala puji hanyalah milik-Mu, pujian sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu.

Engkaulah Pemilik sifat-sifat terpuji dan segala bentuk kesempurnaan. (Puji-pujian untuk-Mu adalah) sebaik-baik ucapan seorang hamba, dan kami semua adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan. Tiada guna segala kekayaan bagi pemiliknya di hadapanMu.”

1 (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Yang berguna bagi seorang hamba di hadapan Allah hanyalah keimanan dan ketaatannya.

Terjemah dari sumber

Fashl

السجود

14

Sujud

15 dari 141

١ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى» (^١).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ (^٢)، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ» (^٣).

٣ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا سَجَدَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الخَالِقِينَ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ membaca dalam sujudnya, “Subḥāna rabbiyal-a'lā” “Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi.” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ biasa membaca dalam sujudnya, “Allāhummaghfir lī dzanbī kullah, diqqahu wa jillah, wa awwalahu wa ākhirah, wa 'alāniyatahu wa sirrah” “Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, baik yang kecil maupun yang besar, yang pertama sampai yang terakhir, dan yang tampak maupun yang tersembunyi.” (HR. Muslim).

3. Apabila Nabi ﷺ sujud, beliau membaca, “Allāhumma laka sajadtu, wa bika āmantu, wa laka aslamtu. Sajada wajhī lilladzī khalaqahu, wa shawwarahu, wa syaqqa sam'ahu wa basharahu, tabārakallāhu aḥsanul-khāliqīn” “Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada (Allah) yang

menciptakannya, membentuk rupanya, dan membuka pendengaran serta penglihatannya. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

التشهد

15

Tasyahud

16 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «قُولُوا: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ (^١)، وَالصَّلَوَاتُ (^٢)، وَالطَّيِّبَاتُ (^٣)، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ ألَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ» (^٤).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Bacalah, ‘Attahiyyātu lillāh, washshalawātu, waththayyibāt. Assalāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Assalāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhishshāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhu wa rasūluh’ ‘Semua penghormatan, doa dan seluruh kebaikan hanyalah milik Allah. Keselamatan bagimu, wahai Nabi, disertai rahmat Allah dan berkah-Nya.

Keselamatan bagi kami dan bagi hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Ucapkanlah,

‘Allāhumma shalli 'alā Muḥammad, wa 'alā āli Muḥammad, kamā shallaita 'alā Ibrāhīm, wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik 'alā Muḥammad, wa 'alā āli Muḥammad, kamā bārakta 'alā Ibrāhīm, wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd’ ‘Ya Allah, anugerahkanlah kemuliaan kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana engkau menganugerahkan kemuliaan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.

Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.’” (HR. Bukhari).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء قبل السلام

16

Doa sebelum Salam

17 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ؛ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ (^١)، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ» (^٢).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَعَوَّذُ دُبُرَ الصَّلَاةِ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ» (^١).

٣ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian telah membaca tasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dengan membaca, ‘Allāhumma innī a'ūdzu bika min 'adzābi jahannam, wa min 'adzābil-qabri, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min syarri fitnatil-masīḥid-dajjāl’ ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Neraka Jahanam, dari azab kubur, dari segala ujian kehidupan dan kematian, serta dari keburukan cobaan Dajal Al-Masih.’” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ biasa berdoa memohon perlindungan di akhir salatnya, “Allāhumma innī a'ūdzu bika minal-jubni, wa a'ūdzu bika an uradda ilā ardzalil-'umuri, wa a'ūdzu bika min fitnatid-dun-yā, wa a'ūdzu bika min 'adzābil-qabri” “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari kehinaan di usia renta, aku

berlindung kepada-Mu dari ujian dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.” (HR. Bukhari).

3. Nabi ﷺ biasa berdoa di antara tasyahud dan salam, “Allāhummaghfir lī mā qaddamtu wa mā akhkhartu, wa mā asrartu wa mā a'lantu, wa mā asraftu, wa mā anta a'lamu bihī minnī, antal-muqaddimu wa antal-muakhkhiru, lā ilāha illā anta” “Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan, dan setiap perbuatanku yang melampaui batas, serta dosa-dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Engkaulah yang Maha Mendahulukan dan Engkaulah yang Maha Mengakhirkan. Tiada Tuhan yang hak selain Engkau.”

(HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الأذكار بعد السلام

17

Zikir setelah Salat

18 dari 141

١ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ: «اسْتَغْفَرَ - ثَلَاثًا -، وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ (^١)، وَمِنْكَ السَّلَامُ (^٢)، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ» (^٣).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ» (^١).

٣ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي دُبُرِ (^٢) كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ، وَلَهُ الفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُونَ» (^٣).

٤ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «يَا مُعَاذُ! لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ» (^١).

٥ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَقَالَ: تَمَامَ المِئَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ؛ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ؛ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ (^٢)» (^٣).

٦ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ؛ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ» (^١).

٧ - عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ ﵁ قَالَ: «أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَقْرَأَ بِالمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Biasanya, apabila Nabi ﷺ telah selesai dari salatnya, beliau beristigfar sebanyak tiga kali, lalu membaca, “Allāhumma antas-salām, wa minkas-salām, tabārakta yā dzaljalāli wal-ikrām” “Ya Allah, Engkaulah yang Mahaselamat (dari segala cela dan kekurangan), dan segala bentuk keselamatan berasal dari-Mu. Mahasuci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim).

2. Apabila Nabi ﷺ selesai dari salatnya dan mengucapkan salam, beliau membaca, “Lā ilāha illāllāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku, wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr. Allāhumma lā māni'a limā a'thaita, wa lā mu'thiya limā mana'ta, wa lā yanfa'u dzāl-jaddi minkal-jaddu” “Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan, dan tidak ada

yang dapat memberi apa yang Engkau tahan. Tiada guna segala kekayaan bagi pemiliknya di hadapan-Mu.” (Muttafaq alaih).

3. Nabi ﷺ biasa membaca di akhir setiap salat, selepas salam, “Lā ilāha illāllāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku, wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, lā ilāha illallāh, wa lā na'budu illā iyyāh, lahun-ni'matu, wa lahul-fadhlu, wa lahuts-tsanā-ul-ḥasan, lā ilāha illallāhu, mukhlishīna lahud-dīn, walau karihal-kāfirūn” “Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Milik-Nyalah segala nikmat, milik-Nyalah segala pemberian, dan milik-Nyalah segala pujian yang baik. Tidak ada tuhan yang hak selain Allah, kami mengikhlaskan semua ibadah hanya untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.”

(HR. Muslim).

4. Nabi ﷺ berpesan, “Wahai Muadz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai salat untuk mengucapkan, ‘Allāhumma a'innī 'alā dzikrika, wa syukrika, wa ḥusni 'ibādatik’ “Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud).

5. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang bertasbih setiap selesai salat sebanyak 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali, maka jumlahnya adalah 99, lalu ia sempurnakan menjadi 100 dengan membaca, ‘Lā ilāha illāllāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku, wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr’ ‘Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,’ maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim).

6. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang membaca Ayat Kursi setelah setiap salat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya

untuk masuk surga kecuali kematiannya.” (HR. Nasa'i dalam kitab As-Sunan Al-Kubra).

7. Dari Uqbah bin Amir , ia berkata, “Rasulullah ﷺ memerintahkan kepadaku untuk membaca Mu'awwidzat1 setelah setiap salat.” (HR. Ahmad).

Catatan kaki 1: Surah-surah pelindung, yaitu Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas.

Terjemah dari sumber

Fashl

دعاء القنوت

18

Doa Qunut

19 dari 141

١ - قَالَ الحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ ﵄: «عَلَّمَنِي النَّبِيُّ ﷺ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الوِتْرِ: اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ» (^١).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Hasan bin Ali berkata, “Nabi ﷺ mengajarkan kepadaku kalimat-kalimat untuk aku baca dalam salat witir: ‘Allāhummahdinī fīman hadait, wa 'āfinī fīman 'āfait, wa tawallanī fīman tawallait, wa bārik lī fīmā a'thait, wa qinī syarra mā qadhait, fa-innaka taqdhī wa lā yuqdhā 'alaik, innahu lā yadzillu man wālait, tabārakta rabbanā wa ta'ālait’ ‘Ya Allah, berikanlah aku hidayah bersama orang-orang yang Engkau beri hidayah. Selamatkanlah aku bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan. Tolonglah aku bersama orangorang yang Engkau beri pertolongan.

Berikanlah aku keberkahan pada apa yang Engkau anugerahkan. Lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, karena sesungguhnya hanya Engkaulah yang menetapkan, dan Engkau tidak terikat dengan ketetapan siapa pun. Sungguh tidak akan terhina orang yang bersama-Mu. Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, lagi Mahatinggi.’” (HR. Tirmidzi).

Terjemah dari sumber

Fashl

إذا سلم من الوتر

19

Selepas Salat Witir

20 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الوِتْرِ قَالَ: «سُبْحَانَ المَلِكِ القُدُّوسِ - ثَلَاثًا -، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ telah salam dari salat witir, beliau mengucapkan, “Subḥānal-Malikil-Quddūs” “Mahasuci Sang Raja yang Mahakudus,” sebanyak 3 kali, dan beliau mengeraskan suara pada bacaan yang ketiga. (HR. Nasa'i).

Terjemah dari sumber

Fashl

الاستخارة

20

Istikharah

21 dari 141

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ﵄ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَلِّمُنَا الاسْتِخَارَةَ (^١) فِي الأُمُورِ، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ، يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ.

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: - عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاقْدُرْهُ لِي، وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ.

وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: - فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاصْرِفْهُ عَنِّي، وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ.

قَالَ: وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, “Nabi ﷺ mengajarkan kami untuk beristikharah dalam semua urusan sebagaimana beliau mengajarkan kami sebuah surah dari Al-Qur'an.

Beliau berkata, ‘Jika seseorang di antara kalian hendak melakukan sesuatu, hendaklah ia salat dua rakaat di luar salat fardu, kemudian berdoa, ‘Allāhumma innī astakhīruka bi 'ilmik, wa astaqdiruka bi qudratik, wa as-aluka min fadhlikal-'azhīm, fa innaka taqdiru wa lā aqdir, wa ta'lamu wa lā a'lam, wa anta 'allāmul-ghuyūb. Allāhumma in kunta ta'lamu anna hādzal-amra khairun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī –atau dengan lafadz: 'ājili amrī wa ājilihi–, faqdur-hu lī, wa yassir-hu lī,

tsumma bārik lī fīh. Wa in kunta ta'lamu anna hādzal-amra syarrun lī fī dīnī

wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī –atau dengan lafadz: fī 'ājili amrī wa ājilihi– fashrif-hu 'annī, washrifnī 'anhu, waqdur liyalkhaira ḥaitsu kāna, tsumma ardhinī bih’ ‘Ya Allah, aku meminta yang terbaik kepadamu melalui Ilmu-Mu, aku meminta kemampuan kepada-Mu melalui KuasaMu, dan aku meminta sebagian dari karunia-Mu yang begitu besar. Karena sungguh Engkau Mahakuasa, sedang aku tak kuasa, Engkau Mahatahu sedang aku tak tahu, dan Engkau Maha mengetahui semua perkara yang gaib.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, untuk agamaku, kehidupanku, dan juga masa depanku atau: untukku kini dan nanti-, maka tetapkanlah perkara ini untukku, mudahkan bagiku, lalu berikanlah aku keberkahan padanya. Akan tetapi, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku, untuk agamaku, kehidupanku, dan juga masa depanku -atau: untukku kini dan nanti-, maka jauhkanlah perkara ini dariku dan palingkan aku darinya.

Lalu, tetapkanlah yang terbaik untukku, apa pun itu, dan buatlah aku rida dengannya.’ Beliau bersabda, ‘Ia sebutkan hajatnya.’”1 (HR. Bukhari). Ia sebutkan hajatnya di dalam doa, dengan mengganti kata ‘perkara ini’ dengan hajatnya tersebut. 1

SAKIT

Terjemah dari sumber

Bab

Sakit

المرض

Fashl

من أحس بوجع

21

Orang Sakit

22 dari 141

١ - «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالمُعَوِّذَاتِ، وَيَنْفُثُ (^١)» (^٢).

٢ - عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي العَاصِ ﵁: «أَنَّهُ شَكَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ - ثَلَاثًا -، وَقُلْ - سَبْعَ مَرَّاتٍ -: أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ، مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (^٣)» (^٤).

Terjemah Indonesia

1. Apabila Nabi ﷺ sakit, beliau biasa membaca untuk dirinya sendiri Mu'awwidzat, lalu beliau meniupkannya.1 (Muttafaq alaih).

2. Dari Utsman bin Abi Al-'Ash , bahwasanya ia pernah mengeluhkan kepada Nabi ﷺ tentang sakit yang ia rasakan di tubuhnya sejak ia masuk Islam. Lalu, Nabi ﷺ mengajarkannya, “Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang terasa sakit, dan bacalah, ‘Bismillāh’ ‘Dengan nama Allah,’ sebanyak tiga kali, lalu bacalah sebanyak tujuh kali, ‘A'ūdzu billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥādzir’

Catatan kaki 1: Meniup agak keras dengan sedikit air liur yang keluar bersamanya.

‘Aku berlindung kepada Allah dan Kekuasaan-Nya, dari keburukan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan.’” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء للمريض عند عيادته

22

Doa saat Menjenguk Orang Sakit

23 dari 141

١ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ لَهُ: «لَا بَأْسَ طَهُورٌ (^١) إِنْ شَاءَ اللَّهُ» (^٢).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَوِّذُ بَعْضَ أَهْلِهِ، يَمْسَحُ بِيَدِهِ اليُمْنَى وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ البَاسَ (^٣)، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا» (^٤).

٣ - أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: «يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ» (^١).

٤ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ، فَقَالَ - عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ -: أَسْأَلُ اللَّهَ العَظِيمَ رَبَّ العَرْشِ العَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ؛ إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ المَرَضِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Apabila Nabi ﷺ menjenguk orang sakit, beliau berkata kepadanya, “Lā ba'sa, thahūrun in syāallāh” “Tidak mengapa, dengan izin Allah penyakit ini akan menjadi pembersih (dosa).” (HR. Bukhari).

2. Nabi ﷺ mendoakan salah seorang keluarganya, beliau mengusap dengan tangan kanannya, sembari membaca, “Allāhumma Rabbannās, adz-hibil-bās, isyfihi wa antasy-syāfī, lā syifā-a illā syifā-uka, syifā-an lā yughādiru saqamā” “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah dia, Engkaulah Sang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit sedikit pun.” (Muttafaq alaih, dengan lafaz Bukhari).

3. Jibril datang kepada Nabi ﷺ, ia bertanya, “Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?” Beliau menjawab, “Ya.” Lalu, Jibril berkata, “Bismillāhi arqīka, min kulli syaiin yu'dzīka, min syarri kulli nafsin au 'aini ḥāsidin, Allāhu yasyfīka, bismillāhi arqīka” “Dengan nama Allah aku memohon perlindungan untukmu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari keburukan setiap jiwa atau mata pendengki.

Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku memohon perlindungan untukmu.” (HR. Muslim).

4. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menjenguk orang sakit yang ajalnya belum tiba, lalu ia berdoa di sisinya sebanyak tujuh kali, ‘As-alullāhal-'azhīm, Rabbal-'arsyil-'azhīm an yasyfiyak’ ‘Aku memohon kepada Allah yang Mahaagung, Pemilik Arasy yang agung, agar Dia menyembuhkanmu,’ maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu.” (HR. Abu Dawud).

4. Rasulullah ﷺ, apabila ada orang yang mengeluhkan suatu penyakit kepada beliau, atau ia mengidap bisul (dan sejenisnya) atau mengalami luka, beliau melakukan seperti ini (mengambil air liur) dengan jari telunjuknya, lalu beliau letakkan jari telunjuknya di tanah (sehingga sebagian tanahnya menempel), kemudian beliau angkat kembali (dan mengusapkannya pada bagian luka tersebut, sembari mengucapkan), “Bismillāhi, turbatu ardhinā, bi rīqati ba'dhinā, li yusyfā bihī saqīmunā, bi idzni rabbinā” “Dengan nama Allah.

Tanah dari bumi kami, disertai air liur seseorang di antara kami, semoga dengannya orang sakit ini disembuhkan, dengan izin Tuhan kami.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

ما يقوله المحتضر

23

Ucapan saat Menghadapi Kematian

24 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؛ دَخَلَ الجَنَّةَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang ucapan terakhirnya adalah: ‘Lā ilāha illallāh’ ‘Tiada Tuhan yang hak selain Allah,’ maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud).

JENAZAH

Terjemah dari sumber

Bab

Jenazah

الجنازة

Fashl

الدعاء للميت في صلاة الجنازة

24

Doa Salat Jenazah

25 dari 141

قَالَ عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ ﵁: «صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ عَلَى جَنَازَةٍ، فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ، وَاعْفُ عَنْهُ.

وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ.

وَنَقِّهِ مِنَ الخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ.

وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ.

وَأَدْخِلْهُ الجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Auf bin Malik berkata, “Nabi ﷺ pernah melakukan salat jenazah, dan aku ingat di antara doa yang beliau panjatkan: ‘Allāhummaghfir lahu, warḥamhu, wa 'āfihi, wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bil-mā-i watstsalji wal-barad, wa naqqihi minal-khathāyā kamā naqqaitats-tsaubal-abyadha minad-danas, wa abdil-hu dāran khairan min dārihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul-jannata, wa a'idz-hu min 'adzābil-qabri, wa min 'adzābin-nār’ ‘Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, lindungilah,

dan maafkanlah dia. Istimewakanlah hidangan sambutan untuknya. Lapangkanlah kuburnya. Basuh ia (dari dosa-dosanya) dengan air, salju, dan es.

Bersihkan dia dari kesalahan-kesalahannya sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari noda. Gantikan untuknya dengan rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah ia ke dalam surga, dan lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka.’” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

التعزية

25

Takziah

26 dari 141

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ﵄ قَالَ: «كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ إِحْدَى بَنَاتِهِ تَدْعُوهُ، وَتُخْبِرُهُ أَنَّ صَبِيًّا لَهَا - أَوِ ابْنًا لَهَا - فِي المَوْتِ، فَقَالَ لِلرَّسُولِ: ارْجِعْ إِلَيْهَا، فَأَخْبِرْهَا أَنَّ: لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى؛ فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ» (^١).

Terjemah Indonesia

Dari Usamah bin Zaid , beliau berkata: Ketika kami sedang bersama Nabi ﷺ, salah seorang putri beliau mengirim utusan untuk memanggil beliau, dan mengabarkan bahwa anaknya dalam kondisi menjelang ajal. Beliau berpesan kepada utusan tersebut, “Kembalilah kepadanya, dan sampaikanlah bahwa: lillāhi mā akhadza wa lahu mā a'thā, wa kullu syaiin 'indahu bi ajalin musammā Milik Allahlah apa yang Dia ambil, milik-Nya pula apa yang Dia beri, dan segala sesuatu memiliki batas waktu yang telah ditentukan di sisi-Nya.

Sampaikan padanya, hendaklah ia mengharapkan pahala dari Allah (atas menimpanya).” (Muttafaq alaih). bersabar dan musibah yang

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء للميت بعد دفنه

26

Doa selepas Pemakaman

27 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ المَيِّتِ: وَقَفَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: «اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا اللَّهَ لَهُ التَّثْبِيتَ؛ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ» (^١).

Terjemah Indonesia

Apabila proses pemakaman jenazah telah selesai, Nabi ﷺ biasanya berdiri di samping kubur jenazah tersebut dan berpesan, “Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian, dan doakanlah agar ia diberi keteguhan, karena sekarang ia akan ditanya.”1 (HR. Abu Dawud).

Catatan kaki 1: Doakanlah agar ia dimudahkan untuk menjawab dengan benar pertanyaan malaikat tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya.

Terjemah dari sumber

Fashl

دعاء زيارة المقابر

27

Doa Ziarah Kubur

28 dari 141

عَنْ بُرَيْدَةَ ﵁ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى المَقَابِرِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ العَافِيَةَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Dari Buraidah , ia berkata: Nabi ﷺ mengajarkan doa kepada para sahabat apabila mereka keluar menuju kuburan: “Assalāmu 'alaikum ahlad-diyār minal-mu'minīn walmuslimīn, wa innā in syāallāhu lalāḥiqūn, as-alullāha lanā wa lakumul-'āfiyah” “Keselamatan untuk kalian, wahai para penghuni kubur dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim. Ketika Allah menghendaki, kami pasti akan menyusul. Aku memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian.” (HR. Muslim).

MUSIBAH

Terjemah dari sumber

Bab

Musibah

المصيبة

Fashl

دعاء الكرب

28

Doa saat Menghadapi Kesulitan

29 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ عِنْدَ الكَرْبِ (^١): «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، العَظِيمُ، الحَلِيمُ.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Saat Nabi ﷺ menghadapi kesulitan, beliau membaca, “Lā ilāha illāllāhul-'azhīmul-ḥalīm, lā ilāha illāllāhu rabbul'arsyil-'azhīm, lā ilāha illāllāhu, rabbus-samāwāti, wa rabbulardhi, wa rabbul-'arsyil-karīm” “Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah, yang Mahaagung lagi Maha penyantun. Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah, Pemilik Arasy yang agung. Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah, Pemilik seluruh langit, Pemilik bumi, dan Pemilik Arasy yang mulia.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

إذا أصيب بمصيبة

29

Saat Ditimpa Musibah

30 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ؛ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ: ﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾، اللَّهُمَّ اؤْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Jika suatu musibah menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya dulu aku melakukan …, pasti hasilnya akan begini dan begini.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Qadarullāhi wa mā syā-a fa'al’ ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia inginkan pasti Dia wujudkan,’ karena kata seandainya akan membuka perbuatan setan.” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah, kemudian ia mengucapkan, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Allāhumma'jurnī fī mushībatī, wa akhlif lī khairan minhā’ ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Ya Allah, berilah aku ganjaran atas musibahku, dan gantikanlah dengan yang lebih baik daripadanya,’ melainkan Allah pasti akan memberinya pahala atas musibah yang

menimpanya, dan menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

إذا خاف قوما

30

Saat Merasa Takut akan bahaya Suatu Kaum

31 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا خَافَ قَوْمًا قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ (^١)، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ khawatir akan bahaya suatu kaum, beliau berdoa, “Allāhumma innā naj'aluka fī nuḥūrihim, wa na'ūdzu bika min syurūrihim” “Ya Allah, kami jadikan Engkau (sebagai pelindung kami) di hadapan mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء على العدو

31

Doa atas Musuh

32 dari 141

دَعَا النَّبِيُّ ﷺ عَلَى الأَحْزَابِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الكِتَابِ، سَرِيعَ الحِسَابِ، اهْزِمِ الأَحْزَابَ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ berdoa atas pasukan ahzab (sekutu)1, “Allāhumma munzilal-kitāb, sarī'al-ḥisāb, ihzimil-aḥzāb. Allāhummahzimhum wa zalzil-hum” “Ya Allah, yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an), yang Mahacepat hisab-Nya, kalahkanlah pasukan ahzab. Ya Allah, kalahkanlah dan guncangkanlah mereka.” (Muttafaq alaih). Koalisi pasukan kabilah-kabilah yang berusaha menyerang Rasulullah ﷺ dan Kota Madinah dalam peristiwa Perang Ahzab.

1

SAFAR (Perjalanan Jauh)

Terjemah dari sumber

Bab

Safar

السفر

Fashl

ما يقال للمسافر عند الوداع

32

Doa untuk Musafir saat Melepas Kepergiannya

33 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا وَدَّعَ أَحَدًا قَالَ: «أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ hendak melepas kepergian seseorang, beliau berkata kepadanya, “Astaudi'ullāha dīnaka, wa amānataka, wa khawātīma 'amalika” “Aku titipkan agamamu, amanahmu1, dan penutup amalmu kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Catatan kaki 1: Keluarga dan harta yang engkau tinggalkan.

Terjemah dari sumber

Fashl

دعاء السفر

33

Doa Safar

34 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ: «كَبَّرَ - ثَلَاثًا -، ثُمَّ قَالَ: ﴿سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ (^١) * وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ (^٢)﴾.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ العَمَلِ مَا تَرْضَى.

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ (^١)، وَكَآبَةِ المَنْظَرِ (^٢)، وَسُوءِ المُنْقَلَبِ (^٣) فِي المَالِ وَالأَهْلِ.

وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ، وَزَادَ فِيهِنَّ: «آيِبُونَ (^٤)، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ» (^٥).

Terjemah Indonesia

«ﱩﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭸ ﮀ ﮁ ﮂ Apabila Nabi ﷺ telah naik ke atas untanya ketika hendak bepergian jauh, beliau bertakbir sebanyak tiga kali, lalu membaca, “Subḥānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinin, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas-aluka fī safarinā hādzā al-birra wat-taqwā, wa minal'amali mā tardhā. Allāhumma hawwin 'alainā safaranā hādzā, wathwi 'annā bu'dahu. Allāhumma antashshāḥibu fissafari, wal-khalīfatu fil-ahli.

Allāhumma innī a'ūdzu bika min wa'tsāis-safari, wa kaābatil-manzhari, wa sū-il-munqalabi fil-māli wal-ahli” “Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami tidak mampu mengendalikannya sendiri, dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah kami pasti akan kembali.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan dan ketakwaan selama perjalanan kami ini, serta amal perbuatan yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan ini bagi kami, dan pendekkanlah untuk kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah pendamping dalam perjalanan dan pelindung bagi keluarga yang ditinggalkan. Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari segala hambatan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan keadaan harta dan keluarga yang tidak baik saat aku kembali.”

Kemudian, saat beliau kembali, beliau membaca doa yang sama, seraya menambahkan, “Āyibūna tāibūna 'ābidūna lirabbinā ḥāmidūn” “Kami kembali, kami bertaubat, kami tunduk, dan kami memuji Tuhan kami.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

إذا صعد أو هبط في طريق سفره

34

Saat Melalui Tanjakan atau Turunan

35 dari 141

قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ﵄: «كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا (^١) كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا (^٢) سَبَّحْنَا» (^٣).

Terjemah Indonesia

Jabir bin Abdullah berkata, “Apabila kami menaiki tempat yang tinggi, kami bertakbir; dan saat kami turun, kami bertasbih.” (HR. Bukhari).

Terjemah dari sumber

Fashl

إذا أسحر المسافر

35

Saat Musafir Mendapati Akhir Malam

36 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ وَأَسْحَرَ (^١) يَقُولُ: «سَمِعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللَّهِ، وَحُسْنِ بَلَائِهِ عَلَيْنَا (^٢)، رَبَّنَا صَاحِبْنَا (^٣)، وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا (^٤)، عَائِذًا بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ» (^٥).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ sedang dalam perjalanan dan mendapati waktu sahur (sebelum fajar), beliau mengucapkan, “Sami'a sāmi'un bi ḥamdillāhi wa ḥusni balāihi 'alainā, Rabbanā shāḥibnā, wa afdhil 'alainā, 'āidzan billāhi minannār” “Kepada siapa saja yang mendengar, dengarkanlah pujipujian kami kepada Allah serta pengakuan atas limpahan karuniaNya kepada kami. Ya Tuhan kami, sertailah kami, dan limpahkanlah karunia-Mu kepada kami. Aku berlindung kepada Allah dari (siksa) neraka.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

دخول القرية

36

Masuk Kampung/Kota

37 dari 141

لَمْ يَرَ النَّبِيُّ ﷺ قَرْيَةً يُرِيدُ دُخُولَهَا؛ إِلَّا قَالَ حِينَ يَرَاهَا: «اللهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ (^١)، وَرَبَّ الأَرَضِينَ وَمَا أَقْلَلْنَ (^٢)، وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ (^٣)، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ (^٤).

فَإِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ القَرْيَةِ، وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا» (^٥).

Terjemah Indonesia

Tidaklah Nabi ﷺ melihat suatu perkampungan yang hendak beliau masuki, kecuali beliau berdoa ketika melihatnya dengan mengucapkan, “Allāhumma rabbas-samāwātis-sab'i wa mā azhlalna, wa rabbal-aradhīna wa mā aqlalna, wa rabbasy-syayāthīni wa mā adhlalna, wa rabbar-riyāḥi wa mā dzaraina, fa innā nas-aluka khaira hādzihil-qaryah, wa khaira ahlihā, wa na'ūdzu bika min syarrihā, wa syarri ahlihā, wa syarri mā fīhā” “Ya Allah, Tuhan tujuh langit beserta segala yang dinaunginya, Tuhan seluruh bumi beserta segala yang dipikulnya,

Tuhan semua setan beserta yang disesatkannya, Tuhan angin beserta apa yang ditebarnya, kami memohon kepadamu kebaikan desa ini beserta kebaikan para penduduknya, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan desa ini, keburukan penduduknya, serta keburukan apa yang berada di dalamnya.” (HR. Nasa'i dalam kitab As-Sunan Al-Kubra).

Terjemah dari sumber

Fashl

الرجوع من السفر

37

Kembali dari Safar

38 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا قَفَلَ (^١) مِنْ غَزْوٍ، أَوْ حَجٍّ، أَوْ عُمْرَةٍ: يُكَبِّرُ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ (^٢) مِنَ الأَرْضِ - ثَلَاثَ تَكْبِيرَاتٍ -، ثُمَّ يَقُولُ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، سَاجِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ.

صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ» (^٣).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ kembali dari peperangan, haji, atau umroh, beliau bertakbir sebanyak tiga kali setiap kali berada pada tempat yang tinggi, kemudian beliau membaca, “Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr. Āyibūna, tāibūna, 'ābidūna, sājidūna, lirabbinā ḥāmidūn. Shadaqallāhu wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah” “Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kerajaan, milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Kami kembali, kami bertaubat, kami tunduk, kami bersujud, dan kami memuji Tuhan kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan ahzab (sekutu) sendirian.” (Muttafaq alaih).

HAJI

Terjemah dari sumber

Bab

Haji

الحج

Fashl

التلبية

38

Kalimat Talbiyah

39 dari 141

كَانَتْ تَلْبِيَةُ النَّبِيِّ ﷺ: «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ (^١).

لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ.

إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Kalimat talbiyah Nabi ﷺ adalah: “Labbaikallāhumma labbaik. Labbaika lā syarīka laka labbaik. Innal-ḥamda wan-ni'mata laka wal-mulka, lā syarīka lak” “Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilanMu.

Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya, segala pujian dan nikmat hanyalah milik-Mu, demikian pula seluruh kerajaan. Tiada sekutu bagiMu.”

(Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

الحجر الأسود

39

Hajar Aswad

40 dari 141

«طَافَ النَّبِيُّ ﷺ بِالبَيْتِ وَهُوَ عَلَى بَعِيرٍ؛ كُلَّمَا أَتَى عَلَى الرُّكْنِ أَشَارَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ فِي يَدِهِ، وَكَبَّرَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ melaksanakan tawaf dengan mengendarai unta, setiap kali beliau melewati sudut tempat hajar aswad, beliau memberi isyarat ke arahnya dengan sesuatu yang ada di tangannya, sembari bertakbir. (HR. Bukhari).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء بين الركنين

40

Doa antara Dua Sudut

41 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (^١): «﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ berdoa di antara dua sudut Ka'bah1, “Rabbanā ātinā fīd-dun-yā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā 'adzāban-nār” “Ya Tuhan kami, anugerahilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (HR. Abu Dawud).

Catatan kaki 1: Yaitu antara rukun yamani dan sudut tempat hajar aswad.

Terjemah dari sumber

Fashl

الصفا والمروة

41

Bukit Safa dan Marwah

42 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا صَعِدَ عَلَى الصَّفَا وَالمَرْوَةِ: «اسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، فَوَحَّدَ اللَّهَ، وَكَبَّرَهُ، وَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ.

ثُمَّ دَعَا بَيْنَ ذَلِكَ (^١).

قَالَ مِثْلَ هَذَا - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ - (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Saat Nabi ﷺ mendekati bukit Safa, beliau membaca, “Innashshafā wal-marwata min sya'ārillāh. Abda-u bi mā bada-allāhu bih” “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan bagian dari syiar-syiar (agama) Allah –Aku akan mulai dengan yang Allah sebutkan terlebih dahulu (Safa)–.” Beliau pun memulai (Sa'i) dari bukit Safa, beliau menaikinya hingga beliau dapat melihat Ka’bah.

Beliau menghadap kiblat, lalu membaca kalimat tauhid1 dan bertakbir, dan membaca, “Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr. Lā ilāha illallāhu waḥdah, anjaza wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah” “Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan

Catatan kaki 1: Kalimat ‘Lā ilāha illallāh.’

yang hak selain Allah semata, Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan ahzab (sekutu) sendirian.” Kemudian beliau berdoa di antara zikirnya itu. Beliau melakukan seperti ini (membaca zikir, lalu berdoa) sebanyak tiga kali. Setelah itu, beliau turun menuju bukit Marwah.

Di atas Marwah, beliau melakukan hal yang sama seperti yang beliau lakukan di atas bukit Safa. (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

المشعر الحرام

42

Al-Masy'ar Al-Haram

43 dari 141

أَتَى النَّبِيُّ ﷺ المَشْعَرَ الحَرَامَ (^١): «فَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، فَدَعَا اللَّهَ، وَكَبَّرَهُ، وَهَلَّلَهُ، وَوَحَّدَهُ، فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى أَسْفَرَ جِدًّا (^٢)، فَدَفَعَ (^٣) قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ» (^٤).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ mendatangi Al-Masy'ar Al-Haram1, lalu beliau menghadap qiblat, dan terus-menerus berdoa kepada Allah, bertakbir, bertahlil, dan membaca kalimat tauhid. Beliau diam di tempat tersebut hingga cahaya pagi benar-benar terang, lalu beliau bertolak sebelum matahari terbit. (HR. Muslim). Sebuah bukit di area Muzdalifah, Nabi ﷺ mendatanginya selepas salat subuh setelah menginap di area Muzdalifah pada malam harinya.

Seluruh Area Muzdalifah juga disebut dengan Al-Masy'ar Al-Haram. 1

Terjemah dari sumber

Fashl

رمي الجمار

43

Lempar Jamrah

44 dari 141

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ melempar jamrah dengan tujuh batu kecil, beliau bertakbir pada setiap lemparan. (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الذبح

44

Menyembelih

45 dari 141

«ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ (^١)، أَقْرَنَيْنِ (^٢)، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ» (^٣).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ berkurban dengan dua ekor domba berwarna putih dengan sedikit corak hitam dan memiliki tanduk yang bagus. Beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri, sembari membaca basmalah dan bertakbir. (Muttafaq alaih).

RUMAH DAN PAKAIAN

Terjemah dari sumber

Bab

Rumah dan Pakaian

البيت واللباس

Fashl

دخول البيت

45

Masuk Rumah

46 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ، وَلَا عَشَاءَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang memasuki rumahnya, dan dia menyebut nama Allah1 saat memasukinya dan saat mulai makan, maka setan akan berkata (kepada rekan-rekannya), ‘Malam ini, kalian tidak punya tempat bermalam dan tidak dapat jatah makan malam (di rumah ini).’” (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Dengan membaca bismillah.

Terjemah dari sumber

Fashl

لبس الثوب الجديد

46

Mengenakan Pakaian Baru

47 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا اسْتَجَدَّ (^١) ثَوْبًا، سَمَّاهُ بِاسْمِهِ (^٢) - عِمَامَةً، أَوْ قَمِيصًا، أَوْ رِدَاءً - ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ» (^٣).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ mengenakan pakaian baru, beliau menyebut jenis pakaian tersebut1, baik berupa serban, baju, atau sarung, lalu beliau berdoa, “Allāhumma lakal-ḥamdu, anta kasautanīhi, as-aluka khairahu wa khaira mā shuni'a lah, wa a'ūdzu bika min syarrihi wa syarri mā shuni'a lah” “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkaulah yang telah menganugerahkan pakaian ini kepadaku. Aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan manfaatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan penggunaannya.” (HR. Tirmidzi). Beliau ﷺ menyebutnya di dalam doanya.

Contohnya, dengan mengatakan, “Baju ini, ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkaulah yang telah menganugerahkannya kepadaku… dst.” 1

MAKANAN

Terjemah dari sumber

Bab

Makanan

الطعام

Fashl

إذا أخذ أول الثمر

47

Saat Mengambil Buah Perdana

48 dari 141

كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ (^١) جَاؤُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا» (^٢).

Terjemah Indonesia

Apabila orang-orang melihat buah perdana (yang pertama kali matang), mereka akan langsung membawanya kepada Nabi ﷺ. Saat Rasulullah ﷺ menerimanya, beliau akan berdoa, “Allāhumma bārik lanā fī tsamarinā” “Ya Allah, berikanlah kami keberkahan pada buahbuahan kami.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

التسمية أول الطعام

48

Membaca Basmalah saat Mulai Makan

49 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ.

فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian hendak makan, hendaklah ia mengucapkan, ‘Bismillāh’ ‘Dengan nama Allah.’ Jika ia lupa di awalnya, hendaklah ia mengucapkan, ‘Bismillāhi fī awwalihi wa ākhirihi’ ‘Dengan nama Allah, sejak mulai makan hingga selesai.’” (HR. Tirmidzi).

Terjemah dari sumber

Fashl

الحمد عند الفراغ من الطعام

49

Mengucap Hamdalah setelah Makan

50 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ: «الحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، طَيِّبًا، مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ (^١)، وَلَا مُوَدَّعٍ (^٢)، وَلَا مُسْتَغْنىً عَنْهُ رَبَّنَا (^٣)» (^٤).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ mengangkat nampannya (selesai makan), beliau mengucapkan, “Alḥamdu lillāhi katsīran thayyiban mubārakan fīhi, ghaira makfiyyin, wa lā muwadda'in, wa lā mustaghnan 'anhu, Rabbanā” “Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah. Tidak terbalas karunia-Mu, tidak juga terputus, dan kami senantiasa butuh kepada-Mu, wahai Tuhan kami.” (HR. Bukhari).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء إذا أكل عند أحد

50

Doa ketika Makan di Tempat Orang

51 dari 141

أَكَلَ النَّبِيُّ ﷺ عِنْدَ رَجُلٍ وَشَرِبَ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ pernah makan dan minum di rumah seseorang, dan setelah selesai, beliau berdoa, “Allāhumma bārik lahum fīmā razaqtahum, waghfir lahum, warḥamhum” “Ya Allah, berikanlah keberkahan pada rizki yang Engkau anugerahkan kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.” (HR. Muslim).

NIKAH

Terjemah dari sumber

Bab

Nikah

النكاح

Fashl

الدعاء للمتزوج

51

Doa untuk Pengantin

52 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا رَفَّأَ الإِنْسَانَ إِذَا تَزَوَّجَ (^١) قَالَ: «بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الخَيْرِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ memberi selamat kepada seseorang yang baru menikah, beliau mengucapkan, “Bārakallāhu laka, wa bāraka 'alaika, wa jama'a bainakumā fil-khair” “Semoga Allah memberkahi (pernikahan ini) untukmu, menurunkan keberkahan atasmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud).

Terjemah dari sumber

Fashl

ما يقول إذا أتى أهله

52

Doa sebelum Berhubungan Badan

53 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ؛ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jika saat seseorang hendak menggauli istrinya, ia berdoa, ‘Bismillāh, allāhumma jannibnasy-syaithān, wa jannibisysyaithāna mā razaqtanā’ ‘Dengan nama Allah. Ya Allah, hindarkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami,’ maka, apabila mereka ditakdirkan memiliki anak dari hubungan tersebut, setan tidak akan pernah bisa mencelakainya.” (Muttafaq alaih).

MALAM DAN TIDUR

Terjemah dari sumber

Bab

Malam dan Tidur

الليل والنوم

Fashl

إذا أقبل الليل

53

Saat Malam Tiba

54 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ (^١) - أَوْ أَمْسَيْتُمْ -؛ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ (^٢) فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ.

وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا.

وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ (^٣)، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ.

وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ (^١)، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرِضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا.

وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ (^٣)» (^٤).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Apabila malam mulai gelap -atau: kalian memasuki waktu petang-, maka tahanlah anak-anak kalian (agar tidak keluar rumah), karena pada waktu tersebut setan-setan mulai berkeliaran. Apabila malam telah berlalu beberapa waktu, biarkanlah mereka.

Tutuplah pintu-pintu kalian sembari menyebut nama Allah, karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup; ikatlah kantung-kantung air kalian sembari menyebut nama Allah; tutuplah wadah-wadah kalian sembari menyebut nama Allah, meskipun hanya dengan sekadar meletakkan sesuatu di atasnya; dan padamkanlah lampu-lampu kalian.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Dua ayat terakhir dari Surah AlBaqarah, barang siapa yang membacanya pada suatu malam, maka kedua ayat tersebut akan melindunginya.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

أذكار النوم

54

Zikir sebelum Tidur

55 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ، فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ (^١)؛ فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ، وَلْيُسَمِّ اللَّهَ، فَإِنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ عَلَى فِرَاشِهِ.

فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَضْطَجِعَ؛ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ، وَلْيَقُلْ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي، بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ ﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ﴾؛ فَإِنَّهُ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ» (^١).

٣ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ: جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا، فَقَرَأَ فِيهِمَا: ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾، وَ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾، وَ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ» (^٢).

٤ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا» (^١).

٥ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَافِيَةَ» (^٢).

٦ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكَفَانَا (^٣) وَآوَانَا (^٤)، فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ» (^٥).

٧ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ ﵄: «أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا: فَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ؛ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ» (^١).

٨ - قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ ﵁: «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ: أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ العَرْشِ العَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الحَبِّ وَالنَّوَى (^١)، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ البَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الفَقْرِ» (^٢).

٩ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ: فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ (^١) ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ.

وَاجْعَلْهُنَّ مِنْ آخِرِ كَلَامِكَ، فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ، مِتَّ وَأَنْتَ عَلَى الفِطْرَةِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian memasuki tempat tidurnya, hendaklah ia memegang ujung bagian dalam kain sarungnya, lalu mengibas-ngibas tempat tidurnya dengannya sembari menyebut nama Allah, karena ia tidak mengetahui apa yang berada di tempat tidurnya setelah ia meninggalkannya.

Lalu, apabila ia hendak berbaring, hendaklah ia berbaring dengan sisi kanan tubuhnya, dan membaca, ‘Subḥānakallāhumma rabbī, bika wadha'tu janbī, wa bika arfa'uh, in amsakta nafsī faghfir lahā, wa in arsaltahā faḥfazhhā bimā taḥfazhu bihi 'ibādakash-shāliḥīn” “Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhanku, karena-Mu aku membaringkan tubuhku, dan karena-Mu pula aku mengangkatnya kembali. Jika Engkau menahan jiwaku1, maka ampunilah ia. Namun, jika Engkau melepaskannya kembali2, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh.” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1:

Catatan kaki 2: Mencabut nyawaku di kala tidur. Engkau biarkan hidup dan membangunkanku dari tidur.

2. Dari Abu Hurairah -dalam kisahnya bersama setan-, bahwasanya setan berkata kepadanya, “Jika engkau hendak tidur, bacalah Ayat Kursi, ‘Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm’ ‘Allah, tidak ada Tuhan yang hak selain Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Memelihara,’ hingga akhir ayatnya, niscaya Allah akan selalu manjagamu, dan setan tidak akan mendekatimu, hingga tiba pagi hari.” Nabi ﷺ bersabda, “Dia adalah pembohong. Namun, kali ini ia jujur kepadamu.”

(HR. Nasa'i dalam kitab As-Sunan Al-Kubra).

3. Di setiap malam, apabila Nabi ﷺ mendatangi tempat tidurnya, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dengan membacakan surah: “Qul huwallāhu Aḥad”

“Katakanlah, ‘Dialah Allah yang Maha Esa,’” “Qul a'ūdzu bi rabbil-falaq” “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Sang Penguasa subuh,’” dan “Qul a'ūdzu bi rabbin-nās” “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan seluruh manusia.’” Kemudian, beliau mengusapkan kedua telapak tangannya pada bagian tubuh yang dapat dijangkaunya, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan seperti ini sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari).

4. Apabila Nabi ﷺ hendak tidur di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu mengucapkan, “Allāhumma bismika amūtu wa aḥyā” “Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati (tidur) dan hidup (bangun).” (HR. Bukhari).

5. Nabi ﷺ berdoa, “Allāhumma khalaqta nafsī wa anta tawaffāhā, laka mamātuhā wa maḥyāhā, in aḥyaitahā faḥfazh-hā, wa in amattahā faghfir lahā. Allāhumma innī as-alukal-'āfiyah” “Ya Allah, Engkaulah yang telah menciptakan jiwaku, dan Engkau pula yang mewafatkannya, milik-Mulah mati dan hidupnya. Jika Engkau menghidupkannya kembali, jagalah ia.

Namun, jika Engkau mematikannya, ampunilah ia. Ya Allah, aku memohon keselamatan kepada-Mu.” (HR. Muslim).

6. Apabila Nabi ﷺ hendak berbaring di tempat tidurnya, beliau mengucapkan, “Alḥamdu lillāhilladzī ath'amanā wa saqānā, wa kafānā wa āwānā, fakam mimman lā kāfiya lahu wa lā mu'wiy” “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menganugerahi kami kecukupan dan tempat tinggal, sementara banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan tempat tinggal.” (HR. Muslim).

7. Nabi ﷺ berkata kepada Ali dan Fatimah , “Apabila kalian hendak tidur, bertasbihlah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali. Sungguh, itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (Muttafaq alaih).

8. Abu Hurairah berkata, “Nabi ﷺ memerintahkan, jika seseorang di antara kami hendak tidur, hendaklah ia berbaring di atas sisi kanan tubuhnya, kemudian membaca, ‘Allāhumma rabbas-samāwāti wa rabbal-ardhi wa rabbal'arsyil-'azhīm, rabbana wa rabba kulli syaiin, fāliqal-ḥabbi wan-nawā, wa munzilat-taurāti wal-injīli wal-furqān. A'ūdzu bika min syarri kulli syaiin anta ākhidzun bi nāshiyatihi.

Allāhumma antal-awwalu falaisa qablaka syai', wa antalākhiru falaisa ba'daka syai', wa antazh-zhāhiru falaisa fauqaka syai', wa antal-bāthinu falaisa dūnaka syai', iqdhi 'annad-daina wa aghninā minal-faqri’ ‘Ya Allah, Tuhan seluruh langit, Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah (menumbuhkan) benih biji-bijian dan buah-buahan, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur'an), aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang yang berada di bawah kendali-Mu.

Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal (Yang Pertama), tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkaulah Al-Ākhir (Yang Terakhir), tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Engkau adalah Azh-Zhāhir (Yang Tertinggi), tidak ada sesuatu pun di atas-Mu; dan Engkau adalah Al-Bāthin (Yang Maha Tersembunyi), tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu; lunasilah hutang kami dan berilah kami kecukupan hingga kami terlepas dari kefakiran.’” (HR. Muslim).

9. Nabi ﷺ bersabda, “Jika engkau bersiap hendak tidur, berwudulah sebagaimana engkau berwudu untuk salat, kemudian berbaringlah dengan sisi kananmu, lalu ucapkanlah, ‘Allāhumma innī aslamtu wajhī ilaika, wa fawwadhtu amrī ilaika, wa alja'tu zhahrī ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, lā maljaa wa lā manjā minka illā ilaika. Āmantu bi kitābikalladzī anzalta, wa bi nabiyyikal-ladzī arsalta’ ‘Ya Allah, kuserahkan wajahku kepada-Mu, kupasrahkan urusanku kepada-Mu, kusandarkan punggungku pada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu.

Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali dengan kembali kepadaMu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus.’ Jadikanlah kalimat-kalimat ini di antara ucapan terakhirmu, maka, jika engkau mati pada malam itu, engkau mati dalam keadaan fitrah (muslim).” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

ما يقول إذا استيقظ

55

Doa Bangun Tidur

56 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ تَعَارَّ (^١) مِنَ اللَّيْلِ؛ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، أَوْ دَعَا؛ اسْتُجِيبَ لَهُ.

فَإِنْ تَوَضَّأَ، وَصَلَّى؛ قُبِلَتْ صَلَاتُهُ» (^٢).

٢ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ» (^١).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ (^٢) إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ مَكَانَهَا: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ؛ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang terbangun pada malam hari, dan membaca, ‘Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr. Alḥamdu lillāh, wa subḥānallāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’ ‘Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu; segala puji bagi Allah; Mahasuci Allah; tidak ada Tuhan yang hak selain Allah; Allah Mahabesar;

tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah;’ lalu ia berkata, ‘Allāhummaghfir lī’ ‘Ya Allah, ampuni aku’ -atau: ia memanjatkan doa-, maka akan dikabulkan untuknya. Jika ia berwudu dan menunaikan salat, salatnya akan diterima.” (HR. Bukhari).

2. Apabila Nabi ﷺ bangun tidur, beliau mengucapkan, “Alḥamdu lillāhil-ladzī aḥyānā ba'da mā amātanā wa ilaihinnusyūr” “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Ia mematikan kami, dan kepada-Nyalah kami akan kembali.” (HR. Bukhari).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Setan mengikatkan tiga simpul di tengkuk seseorang di antara kalian saat ia tidur. Ia memukul setiap simpul sembari membisikkan, ‘Malammu masih panjang, tidurlah!’ Jika orang tersebut bangun, lalu berzikir dengan menyebut Allah, terlepaslah satu simpul; jika ia berwudu, terlepaslah satu simpul lagi; jika ia salat, terlepaslah satu simpul terakhir, sehingga ia memulai harinya dengan penuh semangat dan suasana hati yang baik. Namun, jika tidak, ia akan memulai harinya dengan suasana hati yang buruk lagi malas.”

(Muttafaq alaih).

MIMPI

Terjemah dari sumber

Bab

Mimpi

الرؤيا

Fashl

الرؤيا الصالحة

56

Mimpi Indah

57 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يُحِبُّهَا؛ فَإِنَّمَا هِيَ مِنَ اللَّهِ، فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ عَلَيْهَا، وَلْيُحَدِّثْ بِهَا» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melihat mimpi yang disukainya, sesungguhnya itu adalah mimpi dari Allah. Karena itu, hendaklah ia memuji Allah atas mimpi tersebut, dan hendaklah ia menceritakannya.” (HR. Bukhari).

Terjemah dari sumber

Fashl

الحلم المفزع

57

Mimpi Buruk

58 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الرُّؤْيَا الحَسَنَةُ مِنَ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلَا يُحَدِّثْ بِهِ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ.

وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا (^١)، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلَاثًا، وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ؛ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ -، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ» (^١).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ» (^٢).

٤ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ؛ فَلْيَقُمْ، فَلْيُصَلِّ» (^٣) (^٤).

أَذْكَارُ الصَّبَاحِ والمَسَاءِ

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Mimpi yang baik itu berasal dari Allah. Karena itu, jika seseorang di antara kalian mengalami mimpi yang menyenangkan, janganlah ia menceritakannya kecuali kepada orang yang menyukainya. Namun, jika ia mengalami mimpi buruk, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut dan dari kejahatan setan, lalu hendaklah ia meludah sebanyak tiga kali dalam sebuah riwayat: ke arah kirinya-, dan janganlah ia menceritakannya kepada siapa pun, maka mimpi itu tidak akan mencelakainya.”

(Muttafaq alaih, dengan lafaz Bukhari).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Hendaklah ia merubah posisi tidurnya ke sisi tubuh yang lain.” (HR. Muslim).

4. Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mengalami mimpi buruk, hendaklah ia bangun, lalu salat.” (HR. Muslim).1 1 Jika seseorang mengalami mimpi buruk, ia dianjurkan untuk melakukan halhal berikut:

1. Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpinya dan dari kejahatan setan.

2. Meludah (meniup agak keras dengan sedikit ludah) ke arah kirinya sebanyak tiga kali.

3. Merubah posisi tidurnya ke sisi tubuh yang lain.

4. Bangun dan mendirikan salat.

5. Tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.

ZIKIR PAGI DAN PETANG

Terjemah dari sumber

Bab

Zikir Pagi dan Petang

أذكار الصباح والمساء

Fashl

Zikir Pagi dan Petang

أذكار الصباح والمساء

58

Zikir Pagi dan Petang

59 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «قُلْ: ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾، وَالمُعَوِّذَتَيْنِ، حِينَ تُمْسِي، وَتُصْبِحُ - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ -؛ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ إِذَا أَمْسَى - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ -: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ؛ لَمْ تَضُرُّهُ حُمَةٌ (^٢) تِلْكَ اللَّيْلَةَ» (^٣).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ -؛ فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ» (^١).

٤ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَصْبَحَ، وَإِذَا أَمْسَى (^٢) يَقُولُ: «أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلَامِ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلَاصِ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا، وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ» (^٣).

٥ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ -: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا؛ إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ» (^١).

٦ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَصْبَحَ قَالَ: «اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ.

وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ المَصِيرُ» (^٢).

٧ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَمْسَى قَالَ: «أَمْسَيْنَا، وَأَمْسَى المُلْكُ لِلَّهِ، وَالحَمْدُ لِلَّهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ، وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ، وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا.

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ وَسُوءِ الكِبَرِ.

رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي القَبْرِ.

وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا: أَصْبَحْنَا،

وَأَصْبَحَ المُلْكُ لِلَّهِ … (^١)» (^٢).

٨ - قَالَ أَبُو بَكْرٍ ﵁: «يَا رَسُولَ اللَّهِ! مُرْنِي بِشَيْءٍ أَقُولُهُ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ، قَالَ: قُلْ: اللَّهُمَّ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ ألَّا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ (^٣).

قَالَ: قُلْهُ؛ إِذَا أَصْبَحْتَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ» (^٤).

٩ - لَمْ يَكْنِ النَّبَيُّ ﷺ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ حِيْنَ يُصْبِحُ، وَحِيْنَ يُمْسِي: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي.

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي.

اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي (^١)» (^٢).

١٠ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «سَيِّدُ الاسْتِغْفَارِ (^١) أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ (^٢) لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

قَالَ: مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ؛ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ.

وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ؛ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ» (^١).

١١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ - حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي -: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، مِئَةَ مَرَّةٍ؛ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ القِيَامَةِ، بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ، أَوْ زَادَ عَلَيْهِ» (^٢).

١٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ - مِئَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَصْبَحَ، وَمِئَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَمْسَى -؛ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِنْهُ، إِلَّا مَنْ قَالَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Bacalah surah ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) di waktu petang dan pagi hari, sebanyak tiga kali, niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang membaca -di waktu petang, sebanyak tiga kali-, ‘A'ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq’ ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk-Nya,’ maka tidak ada sengatan hewan berbisa yang dapat mencelakainya pada malam itu.” (HR. Ahmad).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada seorang pun yang mengucapkan -setiap pagi dan petang-,

‘Bismillāhil-ladzī lā yadhurru ma'asmihi syai-un fīl-ardhi wa lā fīs-samā', wa huwas-samī'ul-'alīm’ ‘Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat mencelakai, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,’ sebanyak tiga kali, lalu ada bahaya yang menimpanya.” (HR. Tirmidzi).

4. Nabi ﷺ biasa membaca -di waktu pagi dan petang-, “Ashbaḥnā1 'alā fithratil-islām, wa 'alā kalimatil-ikhlāsh, wa 'alā dīni nabiyyinā Muḥammadin shallallāhu 'alaihi wa sallam, wa 'alā millati abīnā Ibrāhīma ḥanīfan musliman wa mā kāna minal-musyrikīn” “Kami memasuki waktu pagi dalam keadaan berada di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas (kalimat tauhid), di atas agama Nabi kami Muhammad ﷺ, serta di atas ajaran ayah kami Ibrahim yang lurus dan berserah diri (kepada Allah), dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad).

Di waktu petang, lafaznya diganti dengan: “Amsainā 'alā fithratil-islām…” (Kami memasuki waktu petang dalam keadaan berada di atas fitrah Islam … dst.). 1

5. Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang muslim mengucapkan -di waktu pagi dan petang, sebanyak tiga kali-, ‘Radhītu billāhi rabban, wa bil-islāmi dīnan, wa bi Muḥammadin shallallāhu 'alaihi wa sallama nabiyyan’ ‘Aku rida Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai nabiku,’ kecuali Allah pasti akan membuatnya rida pada hari kiamat (dengan memberikan ganjaran terbaik).” (HR. Ahmad).

6. Nabi ﷺ biasa membaca di waktu pagi, “Allāhumma bika ashbaḥnā, wa bika amsainā, wa bika naḥyā, wa bika namūtu, wa ilaikan-nusyūr” “Ya Allah, karena-Mu kami memasuki waktu pagi, dan karena-Mu kami memasuki waktu petang, karena-Mu kami hidup dan karena-Mu kami mati, dan kepada-Mulah kami akan dibangkitkan.”

Lalu, di waktu petang, beliau membaca, “Allāhumma bika amsainā, wa bika ashbaḥnā, wa bika naḥyā, wa bika namūtu, wa ilaikal-mashīr” “Ya Allah, karena-Mu kami memasuki waktu petang dan karena-Mu kami memasuki waktu pagi, karena-Mu kami hidup dan karena-Mu kami mati, dan kepada-Mulah kami akan kembali.” (HR. Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrod).

7. Nabi ﷺ biasa membaca di waktu petang, “Amsainā wa amsal-mulku lillāh, wal-ḥamdu lillāh, lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku, wa lahulḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr. Rabbi as-aluka khaira mā fī hādzihil-lailah, wa khaira mā ba'dahā, wa a'ūdzu bika min syarri mā fī hādzihil-lailah, wa syarri mā ba'dahā. Rabbi a'ūdzu bika minal-kasali wa sū-il-kibari. Rabbi a'ūdzu bika min 'adzābin fin-nāri wa 'adzābin fil-qabr” “Kami memasuki waktu petang, dan seluruh kerajaan adalah milik Allah.

Segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tuhanku, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang ada pada malam ini dan kebaikan yang ada setelahnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang ada pada malam ini dan segala keburukan setelahnya. Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas dan buruknya usia renta.

Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan azab kubur.”

Lalu, di waktu pagi, beliau membaca doa yang sama, “Ashbaḥnā wa ashbaḥal-mulku lillāh ...” “Kami memasuki waktu pagi, dan seluruh kerajaan adalah milik Allah ... dst.”1 (HR. Muslim).

8. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, sarankan kepadaku sesuatu untuk aku baca di waktu pagi dan petangku.” Beliau menjawab, “Ucapkanlah, ‘Allāhumma 'ālimal-ghaibi wasy-syahādah, fāthiras-samāwāti wal-ardhi, rabba kulli syaiin wa malīkah, asyhadu allā ilāha illā anta, a'ūdzu bika min syarri nafsī wa min syarrisysyaithāni wa syirkih’ ‘Ya Allah, yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, Pencipta seluruh langit dan bumi, Tuhan dan Penguasa

segala sesuatu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak selain Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, dan dari kejahatan setan serta kesyirikan (yang dibisikkan)nya.’” Beliau berkata, “Bacalah doa ini di waktu pagi dan petang, dan saat engkau bersiap hendak tidur.” (HR. Tirmidzi).

9. Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan doa berikut ini setiap pagi dan petang: “Allāhumma innī as-alukal-'āfiyata fīd-dun-yā wal-ākhirah. Allāhumma innī as-alukal-'afwa wal-'āfiyata fī dīnī wa dunyāya, wa ahlī wa mālī. Allāhummastur 'aurātī, wa āmin rau'ātī.

Allāhummaḥfazhnī min baini yadayya, wa min khalfī, wa 'an yamīnī, wa 'an syimālī, wa min fauqī, wa a'ūdzu bi 'azhamatika an ughtāla min taḥtī” “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam urusan agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku (aibku), dan tenangkanlah rasa takutku.

Ya Allah, lindungilah aku dari arah depan dan belakangku, arah kanan dan kiriku, serta dari arah atasku, dan aku berlindung dengan Keagungan-Mu dari ancaman bahaya yang berasal dari arah bawahku.” (HR. Ahmad).

10. Nabi ﷺ bersabda, “Penghulu istigfar1 adalah dengan mengucapkan, ‘Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā 'abduka, wa anā 'alā 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'ūdzu bika min syarri mā shana'tu, abūu laka bini'matika 'alayya, wa abūu laka bi dzanbī, faghfir lī, fa innahu lā yaghfirudzdzunūba illā anta’ ‘Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada tuhan yang hak selain-Mu. Engkau yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu, aku berpegang pada titah dan janji-Mu dengan segenap kemampuanku.

Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui limpahan nikmat-Mu padaku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku, karena sungguh tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.’” Beliau berkata, “Barang siapa yang membacanya pada siang hari dengan penuh keyakinan terhadapnya, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum malam tiba, maka ia termasuk ahli surga; dan barang siapa yang membacanya pada malam hari dengan penuh

Catatan kaki 1: Istigfar memiliki banyak pilihan lafaz. Akan tetapi, lafaz istigfar terbaik adalah apa yang disebutkan di dalam hadis ini.

keyakinan terhadapnya, lalu ia mati sebelum pagi tiba, maka ia termasuk ahli surga.” (HR. Bukhari).

11. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan di waktu pagi dan petang, ‘Subḥānallāhi wa bi ḥamdih’ ‘Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya’ sebanyak 100 kali, maka tidak ada seorang pun pada hari kiamat nanti yang akan membawa amalan yang lebih baik daripadanya, kecuali orang yang mengucapkan sepertinya atau lebih darinya.” (HR. Muslim).

12. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan, ‘Lā ilāha illāllāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku, wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr’ ‘Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’ sebanyak 100 kali di kala pagi, dan 100 kali di kala petang, maka tidak ada orang yang membawa amalan yang lebih baik daripadanya, kecuali

orang yang mengucapkan lebih dari itu.” (HR. Nasa'i dalam kitab As-Sunan Al-Kubra).

Terjemah dari sumber

Fashl

تعويذ الأولاد

59

Perlindungan untuk Anak-Anak

60 dari 141

كَانَ النَّبيُّ ﷺ يُعَوِّذُ الحَسَنَ وَالحُسَيْنَ (^١) وَيَقُولُ: «إِنَّ أَبَاكُمَا (^٢) كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ (^٣)، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ (^٤)» (^٥).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ membacakan doa perlindungan untuk Hasan dan Husain ,1 beliau berkata, “Ayah kalian (Ibrahim ) dulu membacanya untuk melindungi Ismail dan Ishaq: ‘A'ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmah, min kulli syaithānin wa hāmmah, wa min kulli 'ainin lāmmah’ ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua gangguan setan dan hewan berbisa, dan dari semua pandangan mata yang mendatangkan celaka.’” (HR. Bukhari).

Catatan kaki 1: Doa ini dapat dibaca untuk melindungi anak-anak dan orang dewasa, baik yang termasuk kerabat maupun yang bukan kerabat.

ZIKIR BEBAS

Terjemah dari sumber

Bab

Zikir Umum

أذكار عامة

Fashl

التسبيح والتحميد

60

Tasbih dan Tahmid

61 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ؛ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، فِي يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ؛ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَحَبُّ الكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ» (^١).

٤ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ» (^٢).

٥ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: يُسَبِّحُ مِئَةَ تَسْبِيحَةٍ؛ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ» (^٣).

٦ - عَنْ جُوَيْرِيَةَ ﵂: «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا (^١)، ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى (^٢)، وَهِيَ جَالِسَةٌ، فَقَالَ: مَا زِلْتِ عَلَى الحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا؟ قَالَتْ: نَعَمْ.

قَالَ: لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ - ثَلَاثَ مَرَّاتٍ -، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ اليَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan, ‘Subḥānallāhil-'Azhīmi wa bi ḥamdih’ ‘Mahasuci Allah yang Mahaagung, dan segala puji bagiNya,’ akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di dalam surga.” (HR. Tirmidzi).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang membaca, ‘Subḥānallāhi wa bi ḥamdih’ ‘Mahasuci Allah, dan segala puji bagi-Nya’ sebanyak 100 kali dalam sehari, akan dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” (Muttafaq alaih).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Ucapan yang paling dicintai oleh Allah adalah 4 kalimat: Subḥānallāh (Mahasuci Allah), Alḥamdu lillāh (segala puji bagi Allah), Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang hak selain Allah), dan Allāhu akbar (Allah Mahabesar), tidak masalah kalimat mana saja yang engkau ucapkan terlebih dahulu.” (HR. Muslim).

4. Nabi ﷺ bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: ‘Subḥānallāhi wa bi ḥamdihi, subḥānallāhil 'Azhīm’ ‘Mahasuci Allah, dan segala puji bagi-Nya. Mahasuci Allah yang Mahaagung.’” (Muttafaq alaih).

5. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak bisakah seseorang di antara kalian mendapatkan seribu kebajikan setiap hari?” Seorang sahabat yang hadir di majlis itu bertanya, “Bagaimana seseorang di antara kami bisa mendapatkan seribu kebajikan?” Beliau menjawab, “Dengan bertasbih sebanyak seratus kali, maka akan dicatat untuknya seribu kebajikan, atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

(HR. Muslim).

6. Dari Juwairiyah , bahwasanya Nabi ﷺ keluar meninggalkannya di suatu pagi buta selepas salat subuh, sedang ia masih berada di tempat salatnya. Beliau kemudian kembali di waktu duha, dan mendapatinya masih duduk di tempat semula. Beliau bertanya, “Apakah engkau masih tetap dalam keadaan duduk seperti ini sejak aku meninggalkanmu tadi?”

Ia menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Sungguh, setelah meninggalkanmu, aku telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali. Seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan semua yang engkau baca sejak pagi tadi, niscaya kalimat-kalimat tersebut akan mengunggulinya: ‘Subḥānallāhi wa bi ḥamdih, 'adada khalqih, wa ridhā nafsih, wa zinata 'arsyih, wa midāda kalimātih’ ‘Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak jumlah ciptaan-Nya, sepanjang keridaan-Nya, seberat Arasy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-kalimat-Nya.’”1 (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Maksudnya, ‘Aku bertasbih dan memuji Allah tanpa batas.’

Terjemah dari sumber

Fashl

التهليل

61

Tahlil

62 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ.

كَانَتْ لَهُ عِدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ.

وَكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ.

وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ.

وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا (^١) مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ.

وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، عَشْرَ مِرَارٍ؛ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang membaca, ‘Lā ilāha illāllāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku, wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr’ ‘Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka ia akan mendapatkan pahala yang setara dengan pahala membebaskan sepuluh orang budak, akan dicatat untuknya seratus kebajikan, dihapus darinya seratus kesalahan,

dan kalimat tersebut akan menjadi pelindungnya dari gangguan setan sepanjang hari itu hingga petang, serta tidak akan ada seorang pun yang dapat membawa amalan yang lebih baik daripadanya, kecuali orang yang melakukan lebih dari itu.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang membaca, ‘Lā ilāha illāllāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syaiin qadīr’ ‘Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah seluruh kerajaan, milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’ sebanyak sepuluh kali, maka itu setara dengan orang yang memerdekakan empat orang dari anak keturunan Ismail.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الحوقلة

62

Kalimat Hauqalah

63 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ (^١)! لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Maukah aku tunjukkan satu kalimat yang merupakan salah satu simpanan berharga dari perbendaharaan surga?1 ‘Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’ ‘Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Ganjaran pahala yang sangat berharga tersimpan di surga untuk orang yang mengucapkannya.

Terjemah dari sumber

Bab

Istigfar dan Taubat

الاستغفار والتوبة

63

Istigfar dan Taubat

64 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي اليَوْمِ - مِئَةَ مَرَّةٍ -» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيَتَوَضَّأُ، فَيُحْسِنُ الوُضُوءَ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ ﷿؛ إِلَّا غَفَرَ لَهُ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ! تُوبُوا إِلَى اللَّهِ؛ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي اليَوْمِ إِلَيْهِ (^٣) - مِئَةَ مَرَّةٍ -» (^٤).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, aku beristigfar kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan dosa, lalu ia berwudu dengan sempurna, kemudian salat dua rakaat, dan meminta ampun kepada Allah , melainkan Allah pasti akan mengampuninya.” (HR. Ahmad).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah! Sungguh, aku bertaubat1 kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim).

ANGIN DAN HUJAN

Terjemah dari sumber

Fashl

Angin dan Hujan

الريح والمطر

Belum ada entri pada bagian ini.

Fashl

إذا عصفت الريح

64

Saat Angin Bertiup Kencang

65 dari 141

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ، قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ.

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Saat angin bertiup kencang, Nabi ﷺ biasanya berdoa, “Allāhumma innī as-aluka khairahā, wa khaira mā fīhā, wa khaira mā ursilat bih, wa a'ūdzu bika min syarrihā, wa syarri mā fīhā, wa syarri mā ursilat bih” “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan dari apa yang dikirimkan bersamanya; dan aku berlindung kepadamu dari keburukannya, keburukan apa yang ada di dalamnya, dan keburukan dari apa yang dikirimkan bersamanya.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

عند نزول المطر

65

Saat Hujan Turun

66 dari 141

١ - كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا رَأَى المَطَرَ، قَالَ: «اللَّهُمَّ صَيِّبًا (^١) نَافِعًا» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «قَالَ اللَّهُ ﷿: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ: فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ؛ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالكَوْكَبِ.

وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا (^٣)؛

فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ» (^١).

سَمَاعُ صِيَاحِ الدِّيكِ وَنَهِيقِ الحِمَارِ

Terjemah Indonesia

1. Apabila Nabi ﷺ melihat hujan, beliau berdoa, “Allāhumma shayyiban nāfi'an” “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang lebat lagi bermanfaat.” (HR. Bukhari).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Allah berfirman, ‘Memasuki pagi ini, ada di antara hamba-hambaku yang beriman kepada-Ku, dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Muthirnā bi fadhlillāhi wa raḥmatih’ ‘Kami diberi hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya,’ maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena munculnya bintang ini atau bintang itu,’ maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.’” (Muttafaq alaih).

MENDENGAR KOKOK AYAM DAN SUARA KELEDAI

Terjemah dari sumber

Fashl

Kokok Ayam dan Suara Keledai

سماع صياح الديك ونهيق الحمار

Belum ada entri pada bagian ini.

Fashl

Kokok Ayam dan Suara Keledai

سماع صياح الديك ونهيق الحمار

66

Mendengar Kokok Ayam dan Suara Keledai

67 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ: فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ؛ فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا.

وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ (^١): فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ؛ فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jika kalian mendengar kokok ayam jantan, mintalah kepada Allah karunia-Nya, karena ayam tersebut telah melihat malaikat; dan jika kalian mendengar suara keledai, berlindunglah kepada Allah dari gangguan setan, karena keledai tersebut telah melihat setan.” (Muttafaq alaih).

BERMASYARAKAT

Terjemah dari sumber

Bab

Bermasyarakat

المخالطة

Fashl

من نزل منزلا

67

Singgah di Suatu Tempat

68 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا، ثُمَّ قَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ (^١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ؛ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْءٌ، حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang singgah di suatu tempat, lalu mengucapkan, ‘A'ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq’ ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk-Nya,’ maka tidak ada apa pun yang dapat mencelakainya hingga ia meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

من قال: أحبك في الله

68

Ungkapan ketika Mencintai Seseorang karena Allah

69 dari 141

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ﵁: «كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ مَرَّ رَجُلٌ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنِّي لَأُحِبُّ هَذَا الرَّجُلَ، قَالَ: هَلْ أَعْلَمْتَهُ ذَلِكَ؟ قَالَ: لَا، فَقَالَ: قُمْ فَأَعْلِمْهُ.

قَالَ: فَقَامَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: يَا هَذَا! وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فِي اللَّهِ.

قَالَ: أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ» (^١).

Terjemah Indonesia

Anas bin Malik berkata, “Ketika aku sedang duduk di majelis Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang lelaki melintas di hadapan kami. Seseorang di antara kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mencintai lelaki ini.’ Beliau bertanya, ‘Apakah engkau pernah mengungkapkan hal itu kepadanya?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Bangunlah, dan ungkapkan kepadanya.’” Anas melanjutkan, “Orang itu kemudian bangkit mendatangi lelaki tersebut, ia berkata kepadanya, ‘Hai kamu! Demi Allah!

Sungguh aku mencintaimu karena Allah.’ Lelaki itu menjawab, ‘Semoga (Allah) yang engkau mencintaiku karena-Nya, juga mencintaimu.’” (HR. Ahmad).

Terjemah dari sumber

Fashl

إذا رأى نعمة على غيره

69

Ketika Melihat Orang Lain Mendapat Nikmat

70 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ مَا يُعْجِبُهُ؛ فَلْيَدْعُ لَهُ بِالبَرَكَةِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melihat pada saudaranya sesuatu yang membuat dirinya kagum, hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya.” (HR. Ibnu Majah).

Terjemah dari sumber

Fashl

عند التعجب من شيء

70

Ketika Merasa Heran atau Kagum terhadap Sesuatu

71 dari 141

١ - يَقُولُ: «سُبْحَانَ اللَّهِ» (^١).

٢ - يَقُولُ: «اللَّهُ أَكْبَرُ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Beliau mengucapkan, “Subḥānallāh” “Mahasuci Allah.” (Muttafaq alaih).

2. Beliau mengucapkan, “Allāhu akbar” “Allah Mahabesar.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

تشميت العاطس

71

Mendoakan Orang yang Bersin

72 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ؛ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ.

وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ.

فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ.

فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ، وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan, ‘Alḥamdu lillāh’ ‘Segala puji bagi Allah.’ Lalu, hendaklah saudaranya -atau: yang sedang bersamanyaberkata kepadanya, ‘Yarḥamukallāh’ ‘Semoga Allah merahmatimu.’ Jika saudaranya sudah mengucapkan ‘Yarhamukallāh’, hendaklah ia membalasnya dengan mengucapkan, ‘Yahdīkumullāhu wa yushliḥu bālakum’ ‘Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.’” (HR. Bukhari).

Terjemah dari sumber

Fashl

الغضب

72

Marah

73 dari 141

اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ، فَجَعَلَ أَحَدُهُمَا يَغْضَبُ وَيَحْمَرُّ وَجْهُهُ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَالَ: «إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Dua orang lelaki bertengkar di hadapan Nabi ﷺ. Salah seorang di antara mereka sangat marah hingga merah padam wajahnya. Nabi ﷺ memandanginya sembari berkata, “Aku tahu satu kalimat yang jika dia mengucapkannya, hilanglah amarahnya, ‘A'ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm’ ‘Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.’” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء لمن صنع معروفا

73

Mendoakan Orang yang Berbuat Baik

74 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا؛ فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, balaslah dengan yang setimpal. Jika kalian tidak memiliki apa pun untuk membalasnya, doakanlah sampai kalian merasa bahwa kalian telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Dawud).

Terjemah dari sumber

Fashl

كفارة المجلس

74

Penggugur Dosa saat Bermajelis

75 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ، فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ (^١)، فَقَالَ - قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ -: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ ألَّا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوبُ إِلَيْكَ؛ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang duduk di suatu majelis, dan ia banyak berbicara yang tidak bermanfaat; lalu, sebelum beranjak dari tempat duduknya itu, ia mengucapkan, ‘Subḥānakallāhumma wa biḥamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaika’ ‘Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak selain-Mu, aku memohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu,’ niscaya akan diampuni baginya setiap kesalahan yang ia lakukan di majelis tersebut.” (HR. Tirmidzi).

BAGIAN KEDUA: ADAB

HAK ALLAH

Terjemah dari sumber

Pasal

Bagian Adab

قسم الآداب

Bab

Hak Allah

حق الله

Fashl

الإخلاص لله

75

Mengikhlaskan Ibadah hanya untuk Allah

76 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «قَالَ اللَّهُ ﵎: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي؛ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ» (^١).

٢ - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيُّ ﵁ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ المَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالَ: قُلْنَا: بَلَى.

فَقَالَ: الشِّرْكُ الخَفِيُّ - أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ -» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Allah, yang Mahasuci lagi Mahatinggi, berfirman, ‘Aku adalah yang paling tidak butuh terhadap sekutu. Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka aku akan meninggalkannya beserta kesyiriknya.’” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai sekalian manusia, waspadalah kalian terhadap syirik yang tersembunyi.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah syirik yang tersembunyi itu?” Beliau menjawab, “Seseorang berdiri dan melakukan salat, kemudian ia berusaha memperindah salatnya karena ia melihat ada orang lain yang memperhatikannya.

Itulah syirik yang tersembunyi.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Terjemah dari sumber

Fashl

مراقبة الله

76

Menyadari Pengawasan Allah

77 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya; dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدعاء

77

Doa

78 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ، فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Doa kalian pasti akan dikabulkan, selama kalian tidak tergesa-gesa dengan berkata, ‘Aku telah berdoa. Namun, tak kunjung dikabulkan.’” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

التصوير

78

Menggambar

79 dari 141

١ - عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ ﵁ قَالَ: «لَعَنَ النَّبِيُّ ﷺ المُصَوِّرَ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ (^٢) لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Abu Juhaifah berkata, “Nabi ﷺ melaknat orang yang menggambar.” (HR. Bukhari).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Setiap penggambar berada di neraka. Allah akan menjadikan setiap gambar yang ia buat menjadi makhluk bernyawa yang akan menyiksanya di dalam neraka jahanam.” (HR. Muslim).

IBADAH

Terjemah dari sumber

Fashl

عبادات

Belum ada entri pada bagian ini.

Fashl

تعاهد القرآن

79

Menjaga Al-Qur'an

80 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَعَاهَدُوا القُرْآنَ (^١)، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا (^٢)» (^٣).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jagalah Al-Qur'an ini1, karena, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, sungguh Al-Qur'an itu lebih mudah lepas dibandingkan unta yang terikat.” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Dengan membaca dan mengulang-ulangnya secara rutin.

Terjemah dari sumber

Fashl

وجوب صلاة الجماعة

80

Kewajiban Salat Berjamaah

81 dari 141

أَتَى النَّبِيَّ ﷺ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى المَسْجِدِ، فَسَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ، فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ.

فَلَمَّا وَلَّى، دَعَاهُ، فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَجِبْ» (^١).

Terjemah Indonesia

Seorang lelaki buta mendatangi Nabi ﷺ, ia berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak memiliki siapa pun yang dapat menuntunku menuju masjid,” ia meminta keringanan kepada Nabi ﷺ agar diizinkan salat di rumahnya. Beliau pun memberikan keringanan untuknya. Namun, saat lelaki itu hendak pergi, beliau memanggilnya kembali, lalu berkata, “Apakah engkau mendengar panggilan (azan) untuk salat?” Ia menjawab, “Ya.”

Beliau berkata, “Kalau begitu, penuhilan panggilan itu.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

المشي إلى المساجد

81

Berjalan ke Masjid

82 dari 141

قَالَ النَّبيُّ ﷺ: «إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلَاةَ؛ فَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jika kalian mendatangi (tempat) salat, hendaklah kalian berjalan dengan tenang.” (Muttafaq alaih).

HAK MAKHLUK

Terjemah dari sumber

Bab

Hak Makhluk

حق المخلوقين

Fashl

من حقوق النبي ﷺ

82

Di Antara Hak-Hak Nabi ﷺ

83 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي؛ فَلَيْسَ مِنِّي» (^١).

٤ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا؛ فَهُوَ رَدٌّ» (^٢).

٥ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً؛ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat kepadaku, maka ia masuk surga; dan barang siapa yang durhaka kepadaku, maka ia telah enggan.”

(HR. Bukhari).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku menjadi orang yang lebih ia cintai dibandingkan orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (Muttafaq alaih).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka dia bukan termasuk golonganku.” (Muttafaq alaih).

4. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).

5. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang berselawat untukku satu kali, maka Allah akan berselawat untuknya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

بر الوالدين

83

Berbakti kepada Kedua Orang Tua

84 dari 141

١ - جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ.

قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ.

قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ.

قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَبَرُّ البِرِّ: أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ وُدَّ أَبِيهِ (^٢)» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, “Siapakah orang yang paling berhak atas kebaikanku?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata, “Kemudian siapa?”

Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata, “Kemudian siapa?”

Beliau menjawab, “Ayahmu.” (Muttafaq alaih). seseorang melanjutkan hubungan baik dengan sahabat-sahabat ayahnya.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

صلة الرحم

84

Silaturahmi

85 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ (^١)؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَيْسَ الوَاصِلُ بِالمُكَافِاءِ، وَلَكِنَّ الوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا (^٣)» (^٤).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya, dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah ia menjaga hubungan baik dengan kerabatnya.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Orang yang dikatakan benar-benar menjaga silaturahmi bukanlah orang yang hanya sekadar membalas budi (ketika kerabatnya berbuat baik kepadanya). Akan tetapi, orang yang benar-benar menjaga silaturahmi adalah orang yang ketika hubungan dengan kerabatnya terputus, ia berusaha menjalinnya kembali.” (HR. Bukhari).

memutus hubungan kekerabatan.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

إكرام الجار

85

Memuliakan Tetangga

86 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالجَارِ؛ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ (^١)» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ» (^٣).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ» (^٤).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Jibril tidak henti-hentinya berpesan kepadaku tentang (hak-hak) tetangga, sampai-sampai aku menyangka ia akan menetapkan tetangga sebagai bagian dari ahli waris.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Muttafaq alaih).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

إكرام الضيف

86

Memuliakan Tamu

87 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

توقير العلماء والصالحين

87

Menghormati para Ulama dan Orang Saleh

88 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا؛ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Allah berfirman, ‘Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya.’” (HR. Bukhari).

Terjemah dari sumber

Fashl

احترام الكبير

88

Menghormati Orang yang Lebih Tua

89 dari 141

تَكَلَّمَ رَجُلٌ فِي حَضْرَةِ مَنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لِيَبْدَأِ الأَكْبَرُ» (^١).

Terjemah Indonesia

Seorang lelaki berbicara lebih dulu di antara orang-orang yang lebih tua darinya, maka Nabi ﷺ berkata, “Biarkanlah yang lebih tua yang memulai.” (Muttafaq alaih, dengan lafaz Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

عيادة المريض

89

Menjenguk Orang Sakit

90 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ عَادَ مَرِيضًا؛ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا خُرْفَةُ الجَنَّةِ؟ قَالَ: جَنَاهَا (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, maka ia sedang berada di tengah-tengah hasil panen surga.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu hasil panen surga?” Beliau menjawab, “Buah-buahannya.”1 (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Orang yang menjenguk orang sakit akan mendapatkan pahala yang sangat banyak hingga seakan-akan ia sedang memanen buah-buahan surga.

KEBERSIHAN

Terjemah dari sumber

Bab

Kebersihan

النظافة

Fashl

آداب قضاء الحاجة

90

Adab Buang Air

91 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ (^١)، قَالُوا: وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَتَخَلَّى (^٢) فِي طَرِيقِ النَّاسِ، أَوْ فِي ظِلِّهِمْ» (^٣).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ، وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الخَلَاءِ بِيَمِينِهِ» (^٤).

٣ - مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: «أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ (^١)؛ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ (^٢)» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Hindarilah dua hal yang mendatangkan laknat.” Mereka bertanya, “Apa dua hal yang mendatangkan laknat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di jalan umum atau di tempat berteduh.”

(HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan saat buang air kecil, dan jangan pula ia membersihkan diri setelah buang air dengan tangan kanannya.” (Muttafaq alaih).

3. Nabi ﷺ berjalan melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya kedua orang ini sedang diazab, dan mereka diazab bukan karena perkara besar1. Salah satunya karena

Catatan kaki 1: Melainkan karena perkara sepele yang mudah ditinggalkan.

suka mengadu domba, dan yang lainnya karena tidak menjaga diri dari terkena air kencingnya sendiri.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

خصال الفطرة

91

Perkara-Perkara Fitrah

92 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «خَمْسٌ مِنَ الفِطْرَةِ (^١): الخِتَانُ، وَالاسْتِحْدَادُ (^٢)، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ» (^٣).

٢ - قَالَ أَنَسٌ ﵁: «وُقِّتَ لَنَا فِي: قَصِّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ، وَنَتْفِ الإِبْطِ، وَحَلْقِ العَانَةِ، أَلَّا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً» (^٤).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Lima hal yang merupakan bagian dari fitrah: berkhitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan memendekkan kumis.” (Muttafaq alaih).

2. Anas berkata, “Kami diberi tenggang waktu untuk memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur rambut kemaluan, agar tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

السواك

92

Bersiwak (Gosok Gigi)

93 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي، لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Menggosok gigi itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridaan Tuhan.” (HR. Ahmad).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk menggosok gigi setiap hendak melaksanakan salat.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

العطاس

93

Bersin

94 dari 141

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا عَطَسَ: غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ، وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Apabila Nabi ﷺ hendak bersin, beliau menutupi wajahnya dengan tangan atau pakaiannya, dan berusaha meredam suara bersinnya. (HR. Tirmidzi).

Terjemah dari sumber

Fashl

التثاؤب

94

Menguap

95 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «التَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَائَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ: هَا (^١)، ضَحِكَ الشَّيْطَانُ» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Menguap berasal dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian akan menguap, hendaklah ia menahannya sebisa mungkin. Sebab, jika ia sampai mengeluarkan suara ‘hoaam’, setan akan tertawa.” (HR. Bukhari).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menutup mulutnya dengan tangannya, karena setan bisa masuk.” (HR. Muslim).

PAKAIAN DAN PENAMPILAN

Terjemah dari sumber

Fashl

Pakaian dan Penampilan

اللباس والهيئة

Belum ada entri pada bagian ini.

Fashl

تحريم الإسبال

95

Keharaman Isbal

96 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ؛ فَفِي النَّارِ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ؛ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Bagian dari kain sarung yang terulur hingga bawah mata kaki, tempatnya adalah di neraka.” (HR. Bukhari).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang memanjangkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan memandangnya pada Hari Kiamat.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

آداب الانتعال

96

Adab Memakai Alas Kaki

97 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ؛ فَلْيَبْدَأْ بِاليَمِينِ؛ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ؛ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا، أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mengenakan alas kaki, hendaklah ia mulai dengan kaki kanan, dan saat melepasnya hendaklah ia mulai dengan kaki kiri.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian berjalan dengan satu alas kaki, hendaklah ia mengenakan keduanya atau melepas keduanya.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

وجوب إعفاء اللحى

97

Kewajiban Memelihara Janggut

98 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «خَالِفُوا المُشْرِكِينَ، وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Hendaklah kalian menyelisihi orangorang musyrik; peliharalah janggut dan pendekkanlah kumis.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

القزع

98

Model Rambut Qaza'

99 dari 141

«نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنِ القَزَعِ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ melarang Qaza' (mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lainnya). (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

الوصل والوشم والنمص

99

Sambung Rambut, Tato, dan Cukur Alis

100 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَعَنَ اللَّهُ الوَاصِلَةَ وَالمُسْتَوْصِلَةَ (^١)، وَالوَاشِمَةَ وَالمُسْتَوْشِمَةَ (^٢)» (^٣).

٢ - قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ ﵁: «لَعَنَ اللَّهُ الوَاشِمَاتِ وَالمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ (^١)، وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ (^٢)، المُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ، وَمَا لِي لَا أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambutnya1, serta wanita yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato.” (Muttafaq alaih).

2. Ibnu Mas'ud berkata, “Allah melaknat para wanita yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato, yang mencabut alisnya dan yang meminta dicabutkan alisnya, dan yang merenggangkan giginya demi kecantikan, wanita-wanita yang mengubah-ubah ciptaan Allah; dan bagaimana mungkin aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah ﷺ?!” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Termasuk menggunakan wig dan bulu mata palsu.

Terjemah dari sumber

Fashl

التشبه

100

Tasyabbuh (Meniru-niru)

101 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ؛ فَهُوَ مِنْهُمْ» (^١).

٢ - عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ﵄ قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ» (^٢).

آدَابُ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

2. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah ﷺ melaknat para lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. Bukhari).

ADAB MAKAN DAN MINUM

Terjemah dari sumber

Bab

Adab Makan dan Minum

آداب الأكل والشرب

Fashl

آداب الأكل

101

Adab Makan

102 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «يَا غُلَامُ! سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «كُلُوا فِي القَصْعَةِ (^٢) مِنْ جَوَانِبِهَا، وَلَا تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهَا؛ فَإِنَّ البَرَكَةَ تَنْزِلُ فِي وَسَطِهَا» (^٣).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذىً وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ» (^٤).

٤ - «مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ» (^١).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai anak muda, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari bagian yang terdekat denganmu.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Makanlah mulai dari tepi-tepi nampan, dan janganlah kalian makan dari bagian tengahnya, karena keberkahan turun di bagian tengahnya.” (HR. Ahmad).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Jika makanan seseorang dari kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya; jangan sampai ia membiarkannya untuk setan.” (HR. Muslim).

4. Dari Abu Hurairah , ia berkata, “Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya,

beliau makan; dan jika beliau tidak menyukainya, beliau tinggalkan.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

آداب الشرب

102

Adab Minum

103 dari 141

١ - «نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا» (^١).

٢ - «نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنِ النَّفْخِ فِي الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ؛ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ» (^٣).

٤ - «كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَنَفَّسُ فِي الشَّرَابِ ثَلَاثًا (^٤)» (^٥).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ melarang minum sambil berdiri. (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ melarang meniup makanan dan minuman. (HR. Ahmad). janganlah ia bernapas di dalam wadah minumnya.”

(Muttafaq alaih).

4. Nabi ﷺ biasanya bernapas di sela-sela minumnya, sebanyak tiga kali. (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

الفراغ من الأكل والشرب

103

Selepas Makan dan Minum

104 dari 141

١ - أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ (^١)، وَقَالَ: «إِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّهِ البَرَكَةُ» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ، أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menjilati jari-jari tangan dan piring1, beliau bersabda, “Kalian tidak mengetahui di bagian mana berkah makanan itu berada.” (HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Allah benar-benar meridai seorang hamba yang, ketika memakan sesuatu, ia memuji-Nya atas nikmat makanan tersebut, atau ketika meminum sesuatu, ia memuji-Nya atas nikmat minuman tersebut.” (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Dengan cara mengusap bekas makanan yang tersisa di piring menggunakan jari, lalu mengisap jari tersebut.

BERGAUL

][105 Jalanan

1. Nabi ﷺ bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian -atau: enam puluh sekian- bagian. Bagian yang paling utama adalah ucapan ‘Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan yang hak selain Allah),’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga merupakan bagian dari iman.”

(HR. Muslim).

2. Dari Abu Said , bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan tempat kami biasa duduk-duduk dan berbincangbincang.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian tetap ingin duduk-duduk di sana, berikanlah jalanan tersebut haknya.”

Mereka bertanya, “Apa haknya?” Beliau menjawab, “Menjaga pandangan, tidak mengganggu pengguna jalan, menjawab salam, mengajak kepada kebaikan, dan melarang kemungkaran.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Bab

Bergaul

العشرة

Fashl

الطريق

104

Hadits 104

105 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً -، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا: إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ» (^١).

٢ - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ ﵁ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «إِيَّاكُمْ وَالجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ! قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا (^٢) نَتَحَدَّثُ فِيهَا.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا المَجْلِسَ، فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ، قَالُوا: وَمَا حَقُّهُ؟ قَالَ: غَضُّ البَصَرِ، وَكَفُّ الأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَالأَمْرُ بِالمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيُ عَنِ المُنْكَرِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Terjemah Indonesia belum tersedia.

Fashl

السلام

105

Salam

106 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ» (^١).

٢ - سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَيُّ الإِسْلَامِ خَيْرٌ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan rasa cinta di antara kalian? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

(HR. Muslim).

2. Nabi ﷺ ditanya, “(Amalan) Islam yang manakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Memberi makan, dan mangucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

الاستئذان

106

Meminta Izin (sebelum Memasuki Suatu Tempat)

107 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّمَا جُعِلَ الاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ البَصَرِ (^١)» (^٢).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا، فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ؛ فَلْيَرْجِعْ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Sebenarnya, meminta izin itu disyariatkan demi menjaga pandangan.”1 (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian sudah meminta izin sebanyak tiga kali, dan tidak diberi izin, hendaklah ia pulang.” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Agar mata tidak melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.

Terjemah dari sumber

Fashl

لا يطرق أهله ليلا

107

Tidak Tiba-Tiba Pulang di Malam Hari

108 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا أَطَالَ أَحَدُكُمُ الغَيْبَةَ؛ فَلَا يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلًا (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian telah lama bepergian, janganlah ia mendatangi keluarganya pada malam hari.”1 (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Sepulang dari perjalanan jauh, janganlah ia tiba-tiba pulang ke keluarganya pada malam hari, kecuali jika mereka sudah tahu akan kedatangannya.

Terjemah dari sumber

Fashl

المجلس

108

Majelis

109 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَقْعَدِهِ، ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَامَ مِنْ مَجْلِسِهِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ؛ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ؛ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ (^٣) يَوْمَ القِيَامَةِ» (^٤).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak sepatutnya seseorang menyuruh orang lain pindah dari tempat duduknya, lalu ia duduk di tempat tersebut. Akan tetapi, hendaklah kalian saling memberi ruang dan melapangkan tempat.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang meninggalkan tempat duduknya, lalu ia kembali ke sana, maka ia lebih berhak atas tempat tersebut.” (HR. Muslim).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang berusaha menyimak percakapan suatu kaum, sedangkan mereka tidak menyukainya – atau: mereka berusaha menjauh darinya1–, maka telinganya akan dituangi timah cair pada Hari Kiamat.” (HR. Bukhari).

Catatan kaki 1: Mereka berusaha menjauh agar ia tidak mendengar percakapan mereka.

Terjemah dari sumber

Fashl

الجليس

109

Teman

110 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ.

فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ (^١)، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ (^٢)، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً.

وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً» (^٣).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi peniup tungku api. Penjual minyak wangi bisa jadi memberimu hadiah, engkau membeli darinya atau engkau mendapatkan aroma wangi darinya. Sedangkan pandai besi, ia bisa saja membakar pakaianmu, atau engkau mencium bau yang tidak sedap darinya.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

المدح في الوجه

110

Memuji Seseorang di Hadapannya

111 dari 141

أَثْنَى رَجُلٌ عَلَى رَجُلٍ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: «وَيْلَكَ! قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ (^١) - مِرَارًا -، مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لَا مَحَالَةَ؛ فَلْيَقُلْ: أَحْسَبُ فُلَانًا (^٢) وَاللَّهُ حَسِيبُهُ (^٣)، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا (^٤)، أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا - إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ -» (^٥).

Terjemah Indonesia

Seorang lelaki pernah memuji seseorang di hadapan Nabi ﷺ, maka beliau berkata, “Celakalah engkau! Engkau telah memenggal leher temanmu, engkau telah memenggal leher temanmu –beliau ucapkan berkali-kali–. Jika seseorang di antara kalian terpaksa harus memuji saudaranya, hendaklah ia mengatakan, ‘Menurutku, si fulan begini dan begini. Namun, hanya Allahlah yang mengetahui keadaan sebenarnya, dan aku tidak bisa memastikan ketakwaan seseorang di hadapan Allah.

Menurutku, dia begini dan begini ….’ –jika yang dia ketahui orangnya memang seperti itu–.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

تحريم احتقار المسلم

111

Haramnya Merendahkan Seorang Muslim

112 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «بِحَسْبِ امْرِاءٍ مِنَ الشَّرِّ (^١) أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Cukuplah menjadi keburukan bagi seseorang ketika ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

التناجي

112

Berbisik-bisik

113 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً، فَلَا يَتَنَاجَى (^١) اثْنَانِ دُونَ صَاحِبِهِمَا؛ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbicara secara rahasia tanpa melibatkan yang ketiga, karena hal itu akan membuatnya bersedih.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

تحريم المعازف

113

Haramnya Alat-Alat Musik

114 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ (^١): الحِرَ (^٢)، وَالحَرِيرَ، وَالخَمْرَ، وَالمَعَازِفَ» (^٣).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, akan ada dari umatku orangorang yang menghalalkan perzinaan, pakaian sutra, minuman keras, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari secara mu'allaq1).

Catatan kaki 1: Hadis mu'allaq adalah hadis yang di pangkal silsilah sanadnya ada satu perawi atau lebih yang tidak disebutkan.

LISAN

Terjemah dari sumber

Bab

Lisan

اللسان

Fashl

الكلام

114

Berbicara

115 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ (^٢)، وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ (^٣)؛ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ» (^٤).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا (^١)، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang dapat menjamin untukku (untuk menjaga) apa yang ada di antara kedua bibirnya (lidahnya) dan yang ada di antara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR. Bukhari).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, seorang hamba bisa saja mengucapkan sebuah kalimat, tanpa memperhatikan isinya1, yang membuatnya terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Tanpa memikirkan dampak dan keburukan isinya.

Terjemah dari sumber

Fashl

الصدق

115

Jujur

116 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ (^١)، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ (^٢) حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا.

وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ! فَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ (^٣)، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan akan menuntun menuju surga. Seseorang yang selalu berkata jujur dan selalu berusaha untuk jujur akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Sebaliknya, hendaklah kalian menjauhi perbutan dusta, karena kedustaan akan membawa kepada kefasikan, dan kefasikan akan membawa ke neraka. Seseorang yang sering berdusta dan sering mencari-cari celah untuk berdusta akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta.”

(Muttafaq alaih, dengan lafaz Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الكلمة الطيبة

116

Ucapan yang Baik

117 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Ucapan yang baik adalah sedekah.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

تحريم سب المسلم

117

Haramnya Mencaci Seorang Muslim

118 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَعْنُ المُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُهَدَاءَ (^٣)، وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ (^٤)» (^٥).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya.” (Muttafaq alaih).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya, orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi saksi1 dan tidak pula menjadi pemberi syafaat2 pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Tidak akan menjadi saksi atas umat-umat terdahulu bahwasanya rasul-rasul mereka telah menyampaikan dakwah dan memenuhi kewajiban risalah kepada mereka.

Catatan kaki 2: Tidak akan menjadi pemberi syafaat ketika orang-orang beriman diberikan izin untuk memberi syafaat.

Terjemah dari sumber

Fashl

الغيبة

118

Gibah

119 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ» (^١).

٢ - عَنْ عَائِشَةَ ﵂ قَالَتْ: «قُلْتُ لِلنَّبِيِّ ﷺ: حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا - تَعْنِي: قَصِيرَةً - فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ (^٢) بِمَاءِ البَحْرِ لَمَزَجَتْهُ (^٣)» (^٤).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَمَّا عُرِجَ بِي؛ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُونَ (^١) وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Setiap muslim terhadap muslim lainnya adalah haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim).

2. Dari Aisyah , ia berkata, “Aku pernah berkata kepada Nabi ﷺ, ‘Cukuplah bagimu dari (kekurangan) Shafiyyah bahwa ia begini dan begini,’ –maksudnya adalah: dia pendek–. Beliau pun menjawab, ‘Sungguh, engkau telah mengucapkan sebuah kalimat yang seandainya kalimatmu ini dicampurkan dengan seluruh air laut, niscaya ia akan mencemarinya.’” (HR. Abu Dawud).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Ketika aku diangkat ke langit, aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku pun bertanya, ‘Siapakah mereka ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging sesama

manusia (menggunjing) dan mencemarkan nama baik mereka.’” (HR. Abu Dawud).

Terjemah dari sumber

Fashl

النميمة

119

Adu Domba

120 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (Muttafaq alaih, dengan lafaz Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الكذب لإضحاك الناس

120

Berbohong untuk Membuat Orang Tertawa

121 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ؛ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ! وَيْلٌ لَهُ!» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta, demi membuat orang-orang tertawa. Celakalah dia. Celakalah dia.” (HR. Ahmad).

AKHLAK

Terjemah dari sumber

Bab

Akhlak

الأخلاق

Fashl

حسن الخلق

121

Akhlak yang Baik

122 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ؛ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا؛ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» (^٢).

٣ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ؛ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ» (^٣).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, termasuk orang-orang terbaik di antara kalian, orang-orang yang paling baik akhlaknya.” (Muttafaq alaih).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).

3. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada Hari Kiamat nanti daripada akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Terjemah dari sumber

Fashl

البشاشة

122

Ramah

123 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ المَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ (^١)» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kamu meremehkan perbuatan baik walau sekecil apa pun, meskipun hanya sekadar menunjukkan wajah ceria ketika bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

التواضع

123

Tawaduk (Rendah Hati)

124 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta; dan dengan sifat pemaaf seorang hamba, Allah justru akan menambah kemuliaannya; serta tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

حب الخير للغير

124

Menginginkan Kebaikan bagi Orang Lain

125 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ؛ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia menginginkan untuk saudaranya apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

الدلالة على الخير

125

Mengajarkan Kebaikan

126 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ؛ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengajarkan suatu kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan tersebut.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

الشكر

126

Bersyukur (Berterima Kasih)

127 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah dianggap bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Ahmad).

SIFAT-SIFAT TERCELA

Terjemah dari sumber

Bab

Sifat Tercela

صفات مذمومة

Fashl

الحسد

127

Dengki

128 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا (^١)، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, jangan saling mendengki, dan jangan pula saling berpaling satu sama lain1. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Saling memutuskan hubungan.

Terjemah dari sumber

Fashl

سوء الظن

128

Buruk Sangka

129 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ (^١)، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ (^٢)» (^٣).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Jauhilah prasangka (buruk), karena prasangka adalah bisikan yang paling dusta.”1 (Muttafaq alaih).

Catatan kaki 1: Karena prasangka buruk adalah bisikan yang dibisikkan oleh setan ke dalam hati manusia.

Terjemah dari sumber

Fashl

الهجر

129

Memutus Hubungan

130 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ (^١) أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ - يَلْتَقِيَانِ، فَيُعْرِضُ هَذَا، وَيُعْرِضُ هَذَا -، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk memutus hubungan dengan saudaranya selama lebih dari tiga malam: mereka bertemu; namun, yang satu berpaling dan yang lain juga berpaling. Orang yang lebih baik di antara keduanya adalah yang pertama kali memulai salam.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

ذو الوجهين

130

Bermuka Dua

131 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ شَرَّ النَّاسِ: ذُو الوَجْهَيْنِ - الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ، وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ -» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, seburuk-buruknya manusia adalah orang yang bermuka dua, ia mendatangi satu kelompok dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lain dengan wajah yang berbeda.” (Muttafaq alaih).

Terjemah dari sumber

Fashl

الغش

131

Menipu

132 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ غَشَّنَا؛ فَلَيْسَ مِنَّا» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

سؤال الناس أموالهم

132

Mengemis Harta kepada Manusia

133 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا (^١)؛ فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا (^٢) - فَلْيَسْتَقِلَّ، أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ (^٣) -» (^٤).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang meminta-minta harta orang lain hanya untuk memperkaya diri, sesungguhnya ia meminta bara api1; maka silakan ia memilih untuk mengambil sedikit atau banyak.” (HR. Muslim).

Catatan kaki 1: Harta yang ia terima akan menjadi bara api yang menyiksanya di Hari Kiamat.

WANITA

Terjemah dari sumber

Bab

Wanita

المرأة

Fashl

الحياء

133

Rasa Malu

134 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Rasa malu itu seluruhnya adalah kebaikan.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

وجوب تغطية الوجه

134

Wajibnya Menutup Wajah

135 dari 141

قَالَتْ عَائِشَةُ ﵂: «يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ المُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ، لَمَّا نَزَلَتْ: ﴿وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ (^١) عَلَى جُيُوبِهِنَّ (^٢)﴾؛ شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ (^٣)، فَاخْتَمَرْنَ بِهَا (^٤)» (^٥).

Terjemah Indonesia

Aisyah berkata, “Semoga Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin generasi awal, begitu ayat ini turun: ‘Hendaklah para wanita mengulurkan kerudung-kerudung1 mereka hingga menutupi dada2 mereka,’ mereka langsung merobek-robek kain sarung mereka dan berkerudung dengannya (dengan menutupi kepala, wajah dan dada).” (HR. Bukhari).

Catatan kaki 1: Khimar adalah kerudung yang menutupi kepala dan wajah. Juyub adalah leher baju. Jadi, ayat ini memerintahkan para wanita untuk menutupi bagian kepala, wajah dan area leher baju mereka, yaitu leher dan dada.

Catatan kaki 2:

Terjemah dari sumber

Fashl

غض البصر

135

Menjaga Pandangan

136 dari 141

قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ﵄: «سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ نَظَرِ الفَجْأَةِ (^١)؛ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي» (^٢).

Terjemah Indonesia

Jarir bin Abdullah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang memandang (wanita yang bukan mahram) tanpa sengaja; dan beliau memerintahkanku untuk mengalihkan pandanganku.” (HR. Muslim).

Terjemah dari sumber

Fashl

حق الزوج على زوجته

136

Hak Suami terhadap Istri

137 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)

Terjemah dari sumber

Fashl

تحريم الدخول على النساء

137

Haramnya Masuk ke Tempat Wanita

138 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ (^١)! فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الحَمْوَ (^٢)؟! قَالَ: الحَمْوُ المَوْتُ (^٣)» (^٤).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kalian masuk ke tempat perempuan.”1 Seorang lelaki dari kalangan Ansor bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan ipar?”2 Beliau menjawab, “Ipar adalah maut.”3 (Muttafaq alaih)

Catatan kaki 1: Jangan bermudah-mudahan dalam berbaur dengan mereka. Al-Hamwu: saudara ipar atau kerabat suami yang lain yang bukan mahram, seperti sepupu.

Catatan kaki 3: Bahayanya sangat besar, seperti maut yang menghancurkan.

Catatan kaki 2:

Terjemah dari sumber

Fashl

تحريم مصافحة النساء غير المحارم

138

Haramnya Berjabat Tangan dengan Perempuan yang Bukan Mahram

139 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ» (^١).

٢ - قَالَتْ عَائِشَةُ ﵂: «وَاللَّهِ! مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ» (^٢).

Terjemah Indonesia

1. Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, aku tidak berjabat tangan dengan perempuan.” (HR. Ahmad).

2. Nabi ﷺ bersabda, “Demi Allah, tangan Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah menyentuh tangan perempuan (yang bukan mahram).” (Muttafaq alaih)

Terjemah dari sumber

Fashl

الخلوة بالمرأة وسفرها بلا محرم

139

Haramnya Wanita Melakukan Perjalanan Jauh tanpa Didampingi Mahram / Haramnya Berduaan dengan Perempuan

140 dari 141

١ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، وَلَا تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ» (^١).

٢ - قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لَا تَحِلُّ لَهُ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا» (^٢).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah seorang wanita bepergian jauh kecuali bersama mahramnya, dan tidak diperbolehkan seorang lelaki masuk menemuinya kecuali ia bersama mahramnya.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, Aku bermaksud ikut serta dalam pasukan perang ini dan ini, sementara istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau menjawab, “Berangkatlah (Muttafaq alaih, dengan lafaz Bukhari). bersama istrimu.”

Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang lelaki berdua-duaan dengan wanita yang tidak halal baginya, karena setan akan menjadi yang ketiga di antara mereka.” (HR. Nasa'i dalam Kitab As-Sunan Al-Kubra)

BERJUMPA DENGAN ALLAH

Terjemah dari sumber

Bab

Berjumpa dengan Allah

لقاء الله

Fashl

Berjumpa dengan Allah

لقاء الله

140

Senang Berjumpa dengan Allah

141 dari 141

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ» (^١).

Terjemah Indonesia

Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa yang ingin berjumpa dengan Allah, maka Allah pun ingin berjumpa dengannya; dan barang siapa yang tidak ingin berjumpa dengan Allah, maka Allah pun tidak ingin berjumpa dengannya.” (Muttafaq alaih)

Terjemah dari sumber

Terjemah di halaman ini membantu memahami makna awal. Untuk pemahaman rinci dan pengambilan hukum, rujuk kepada guru atau syarah yang terpercaya.